Subuh itu sama seperti subuh-subuh sebelumnya, Karma sudah bangun dan mengajak adiknya ke sumur. Ada yang harus mereka kerjakan pada subuh itu, mandi, wudu, dan salat. Ibunya yang mengajar mereka begitu, mengajar kebiasaan baik dan bertakwa kepada Yang Mahakuasa.
Pada saat fajar menyingsing itulah mereka bisa menikmati dua titik terang di langit timur. Mereka menamakannya sepasang bintang fajar karena kedua titik terang itu hanya tampak pada saat fajar mulai menyingsing dan sebelum matahari terbit. Sebenarnya pada saat matahari terbenam, kedua titik terang itu juga bisa dilihat dengan jelas, selalu tampak tidak jauh dari matahari, tetapi kedua anak itu tidak tahu. Mercka hanya mengetahui bahwa sepasang bintang fajar itu muncul menjemput Matahari, kemudian segera lenyap begitu matahari muncul. !
Maria mengakui salah satu titik terang itu adalah miliknya, sedangkan yang satu lagi diberikan untuk kakaknya. Titik terang yang diakui sebagai milik Maria terletak di langit sedikit agak di bawah jika dibandingkan dengan titik terang milik kakaknya.
Kedua titik terang yang mereka sebut-sebut sebagai bintang fajar sesungguhnya bukan bintang, melainkan dua buah planet dari sembilan planet yang mengelilingi matahari. Kedua planet itu berkilauan karena menerima cahaya dari matahari. Tanpa ada matahari kedua planet yang mereka sebut sebagai bintang itu tidak akan bercahaya.
Maria tertawa riang jika melihat titik terang miliknya berkedipkedip. Sekali-sekali ia menudingkan telunjuknya ke langit sambil bersorak gembira.

"Lihatlah itu! Bintangku tersenyum kepadaku!" soraknya. "Bintang milik Kakak malah diam saja! Ayo berkedip seperti bintangku!"
"Mungkin bintangku masih mengantuk," sahut Karma tanpa berhenti menimba air untuk wudu dan mandi.
Jangan-jangan bintang milik Kakak itu pemalas," kata Maria.
"Biar saja dia pemalas asalkan aku tidak."
"Mungkin dia sedang sakit, Kak."
"Mungkin," sahut Karma. "Sudahlah jangan memandangi terus nanti dia merasa malu. Ayo mandi dahulu."
Pernah pada suatu fajar, langit di timur tampak kelabu karena tertutup mendung. Maria tidak lagi melihat 'bintang' miliknya. Alangkah sedih perasaan anak itu. la mengira 'bintang” miliknya tidak sayang lagi kepadanya. la termenung sedih. Dalam keadaan seperti itu Karma biasanya menghibur hati adiknya.
"Bintangmu mungkin sedang sakit. Doakan saja semoga Tuhan cepat menyembuhkannya," kata Karma menghibur. "Bintangku juga tidak muncul. Jadi, kamu jangan bersedih hati. Kalau bintangbintang itu sudah sembuh, mereka pasti akan muncul menemui kita lagi." , - Kata-kata kakaknya membuat hati Maria merasa terhibur. Sedikit demi sedikit senyumnya muncul.
“Kak," katanya kemudian menunjuk kaki langit sebelah timur. "Nanti kalau sudah besar, apakah kita bisa terbang menuju ke bintang itu?"
Karma tidak segera menjawab. la tampak kebingungan.
"Bisa atau tidak, Kak?" .
“Bisa,” kata Karma asal menjawab: Ia tidak ingin adiknya tambah kecewa.
"Naik kapal ya, Kak?"
Ya."
"Ongkosnya pasti mahal," kata Maria.
Disadari atau tidak Karma terbawa oleh angan-angan adiknya, la ingin bisa terbang seperti Gatotkaca, tokoh pewayangan yang sangat dikaguminya. Alangkah senangnya jika ia bisa terbang. Tentu dirgantara akan dijelajahinya.
Karma sckonyong-konyong teringat akan sesuatu yang meng. gembirakan hatinya. Hari itu adalah saat sedekah bumi di desanya, semacam upacara ritual yang berhubungan dengan adat istiadat. Sedekah bumi dilakukan satu kali dalam setahun, tepatnya pada awal musim hujan saat petani mulai menggarap sawahnya.
Para petani mengeluarkan sedekah atas tanah yang mereka garap untuk lahan pertanian. Petani percaya dengan mengeluarkan sedekah bumi, tanah akan memberikan hasil panen lebih baik. Melalui sedekah bumi setidak-tidaknya petani sudah mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas anugerah bumi yang telah memberikan sumber kehidupan.
Petani yang melakukan sedekah bumi umumnya mengirim nasi tumpeng beserta lauk pauknya ke balai desa. Oleh pamong desa nasi tumpeng yang jumlahnya tidak sedikit dibagikan kepada penduduk yang dianggap berhak menerimanya.
Sedekah bumi ditandai dengan pertunjukan wayang kulit siang malam. Sesungguhnya itulah yang sangat menggembirakan hati » Karma. Ia gemar sekali menonton pertunjukan wayang kulit. Pada pertunjukan siang hari saat upacara ritual sedekah bumi di ' laksanakan, Ki Dalang tentu membawakan cerita klasik Raja Bumiloka. Dalam pertunjukan itu Karma akan melihat bagaimana Gatotkaca dengan gagah berani menghadang musuh-musuh negara. Dengan kesaktian luar biasa Gatotkaca menumpas setia pengacau untuk mengamankan wilayah kekuasaannya.
Pandai sekali Ki Dalang memainkan wayangnya. Begitu panda nya sehingga Gatotkaca yang terbuat dari kulit sapi itu seakan-aka benar-benar hidup. Karma merasa bangga menyaksikannya.
Karma demikian asyik menyaksikan pertunjukan lakon Raja Bumiloka sehingga ia lupa saat itu sebenarnya sedang waktu Istirahat sekolah. la duduk melongo dekat kotak wayang di sebelah kiri dalang. Dari tempat itulah perhatiannya dipusatkan pada cerita yang dituturkan Ki Dalang. la baru sadar setelah mendengar lonceng sekolah dipukul berkali-kali.
Karma melompat turun dari atas panggung meninggalkan Ki Dalang dengan ceritanya. la berlari-lari menuju sekolah yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari balai desa. Halaman sekolah tampak sepi. Karma mengira lonceng yang didengarnya tadi adalah tanda usai istirahat terakhir.
"Aku ketinggalan masuk kelas," gumamnya sambil menuju pintu kelasnya. Belum lagi ia membuka pintu, tiba-tiba pintu kelasnya terbuka. Teman-temannya berhamburan ke luar sambil menenteng buku masing-masing. !
"Astaga" Karma terperangah. Lonceng tadi rupanya tanda akhir pelajaran. Tentu saja Karma tidak mendengar bunyi lonceng masuk, karena saat itu gamelan sedang bertalu-talu. .
"Mengapa kamu tidak masuk kelas?" tanya salah seorang temannya. |
"Aku terlambat," kata Karma penuh penyesalan.
"Baru saja aku mau ke panggung wayang menyusulmu. Aku disuruh Bu Weni memanggilmu."
"Aku dipanggil Bu Weni?"
"Ya."
"Celaka!" gumam Karma sambil menggaruk-garuk kepala. |
Dengan ragu-ragu Ia memasuki kelas yang sudah sepi. Bu Weni , tampak masih menulis di belakang meja. Dengan perasaan tidak menentu Karma menghampiri meja gurunya.
"Maaf, Bu. . ." katanya tersendat. "Pertunjukan wayang kulit itu membuat saya lupa."
"Jadi, wayang kulit yang bersalah, .ya?"
"Bukan, Bu. Saya yang bersalah," sahut Karma menunduk.
Bu Weni menatap Karma dengan pandangan tajam, Karma menunduk semakin dalam. Ia pasrah. Hukuman apa pun akan diterimanya dengan rela karena ia memang bersalah. "Kamu harus dihukum!"
"Ya, Bu."
"Kerjakan sepuluh soal matematika dari halaman dua puluh. Tulis di dalam buku P2. Besok pagi harus sudah selesai. Mengerti?"
"Ya, Bu."
"Sekarang kamu boleh pulang!"
"Terima kasih, Bu," kata Karma sambil berpikir. Nanti malam terpaksa ia harus bekerja keras mengerjakan soal matematika. Jika tidak, hukuman yang dialaminya akan berlipat ganda.