Langit pada malam itu tidak segelap malam-malam sebelum: nya. Sayup-sayup suara gamelan wayang di balai desa terdengar pula di telinga Karma. Ingin rasanya ia berlari ke luar rumah, kemudian duduk dekat kotak wayang. Seandainya tidak ada soal soal matematika sudah tentu ia pergi ke balai desa.
Satu demi satuNsoal matematika itu diselesaikannya. Sckalisekali ia termenung mencari angka-angka yang tepat. Kadang: kadang ia mengeluh jika menemukan kesulitan. Ada istilah yang sulit dimengerti oleh anak seusia Karma. Bahkan, jutaan 'orang tua di negeri ini sering mengeluh karena sulit berpartisipasi mengajari anaknya matematika. Bagaimana orang tua bisa mengajari anaknya matematika kalau dia sendiri tidak tahu apa yang dimaksud dengan gcometri, aritmetika, kurva,-dan bilangan cacah?
Kira-kira pukul sembilan malam, delapan dari sepuluh soal telah diselesaikannya. Mata Karma terasa agak pedih. Punggungnya penat sekali. Beberapa kali ibunya menyarankan agar ia beristirahat dahulu sejenak, tetapi Karma selalu menolak.
"Sudah tanggung, Bu. Dua soal lagi," katanya.
"Ada berapa soal seluruhnya?" "Sepuluh."
"Wah, banyak sekali."
"Supaya cepat pintar, Bu." Karma beralasan. Ia tidak mengatakan bahwa dirinya tadi siang mendapat hukuman dari gurunya. "Selesaikan saja besok subuh," saran ibunya.
"Sudahlah, Ibu tidur saja. Jangan mengomel terus, konsentrasi saya buyar," kata Karma sambil tertawa. Adiknya sudah tertidur lelap.
Kembali Karma menekuni dua soal matematika yang paling sulit. Satu jam kemudian ia dapat mengerjakan seluruh soal. Matanya benar-benar letih. la menguap sambil menutup buku matematikanya. la menyimpan buku itu pada tumpukan paling atas, supaya besok tidak lupa membawanya. Besok tidak ada pelajaran matematika. Ia takut lupa membawanya.
Sebelum naik ke pembaringan Karma sempat menjenguk adiknya dan menatap wajah Maria berlama-lama. Damai sekali Maria malam itu. Karma tersenyum sambil membetulkan letak selimut di kaki adiknya.
Perlahan-lahan Karma merebahkan diri di atas pembaringan. . Balai-balai bambu beralaskan tikar itu berderit. Karma menerawang lewat celah-celah atap rumbia di atasnya. Ada kedip bintang mengintip di langit. Tiba-tiba ia teringat akan cita-cita adiknya yang ingin menggapai bintang-bintang di langit. Ingin terbang ke awang-awang merupakan suatu cita-cita yang mustahil terlaksana.
Kadang-kadang Karma juga punya angan-angan seperti adik. nya. Pada malam yang sesunyi itu angan-angan Karma melayang tinggi sekali. Ia seolah-olah terbang menuju dirgantara tanpa batas.
Entah sudah berapa lama Karma tertidur hingga pada suatu saat ada dua berkas cahaya putih terang memancar dari langit timur. Cahaya itu menyeruak masuk ke dalam gubuk reot tempat tinggalnya sehingga terang-benderang. Demikian terangnya cahaya itu sehingga Karma tidak bisa melihat apa-apa.
Cahaya benderang itu menerangi seisi rumah. Sentuhannya terasa menyelusup ke dalam darah, seperti air sejuk yang mengguyur tubuhnya. Cahaya benderang itu makin lama semakin pudar, Pada saat itulah Karma melihat keajaiban pada ruangan tempat ia berada, pada ibunya, pada Maria, juga pada dirinya sendiri. Semua tampak berubah.
Dengan heran Karma memandangi ruangan rumahnya yang semula kumuh dan lembab ini telah berubah menjadi sebuah Istana yang sangat megah. Lantainya berkilap seperti kaca. Dinding nya terbuat dari batu pualam. Di tengah ruangan terdapat lampu kristal yang membiaskan cahaya ke seluruh ruangan. Hiasan dinding dan perabotan rumah serba mewah.
Ruangan yang semula sempit telah berubah menjadi begitu luas. Balai-balai bambu tempat tidurnya sudah berubah menjadi ranjang indah berlapiskan emas. Tikar yang sudah aus bagian sudutnya itu telah diganti dengan permadani. Karma merasa bingung.
"Ya Allah! Apa yang telah terjadi?" tanyanya dalam hati. Dalam keadaan bingung ia berjalan kian kemari. la menemukan cermin besar pada sebuah dinding. Tampak bayangannya sendiri pada cermin. Karma hampir tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya. Dirinya telah berubah sama sekali. Ia berpakaian indah sekali. Pada pakaiannya terdapat hiasan intan permata.

“Aku... aku jadi Gatotkaca!" serunya sambil memandangi bayangannya di cermin. "Kalau begitu aku bisa terbang. Baju yang aku pakai ini pastilah baju Antakusuma. Sepatuku pemberian dewa yang membuat aku bisa terbang. Ototku kawat baja, tulangku besi. Aku Gatotkaca! Aku digjayangrana punjuling apa-apa. Aku sakti mandraguna, ora tedas tapak paluning pande sesaling gurinda. Aku punya aji sapta pangrungu, bisa mendengar dari jarak jauh. Pada kedua tanganku terdapat bermacam-macam ajian. Aji Brajamusti, Brajadenta, Brajalamatan, Brajawikalpa, Tapak Menggala, Bajinga Kiri, Bajinga Kanan. Seluruh tubuhku dilindungi kekuatan dewata: Aku sakti tanpa tandingan. Akulah Gatotkaca dari Pringgadani."
Karma tiba-tiba teringat ibu dan adiknya, Maria. Entah sekarang mercka sedang berada di mana. Karma mencari dari ruangan ke ruangan yang domikian banyak dan luas itu. Ibu! Maria!” panggil Karma berkali-kali. la ingin menunjukkan dwinya sekarang sudah berubah menjadi Gatotkaca, pejabat tinggi Negara Amarta
"Ibu! Maria!" panggil Karma. Tetapi, yang dipanggil tidak juga menyahut. "Kalian di mana? Ibu! Maria!"
Entah di mana mereka. Tidak ada tempat bertanya, tidak ada siapa-siapa. Di dalam istana yang besar dan megah itu Karma tinggal seorang diri. Sekelilingnya sunyi senyap.
Dengan tatapan tajam Karma memandangi alam sekelilingnya. Rasanya baru pertama kali ia berada di tempat itu, sebuah tempat yang asing baginya. Di sekeliling istana tidak ada pepohonan seperti di desanya. Tidak ada sungai dan jembatan kayu. Fidak ada rumah lain, kecuali istananya itu.
Karma berputar-putar mengelilingi istana megah itu. Ia mencari siapa saja yang mungkin bisa diajak bicara, tetapi ia tidak menemukan siapa-siapa, kecuali dirinya sendiri. Walau-pun demikian ia sadar bahwa sesungguhnya ia tidak sendiri. Ada sesuatu yang lain yang tidak tampak, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
"Ya, Allah!" bisik hatinya. "Di manakah sekarang aku berada? Tempat siapakah ini? Di manakah ibu dan adikku berada? Kepada siapakah aku harus bertanya?"
Karma tidak putus asa. la berusaha terus mencari di tempat kosong yang demikian luas. Pada suatu ketika sampailah Karma di sebuah tempat seperti taman. Udara di situ sangat dingin. Pohonpohon tampak seperti batu. Bentuknya juga aneh-aneh sekali. Karma semakin ingin tahu. la memegang salah satu pohon itu. Ternyata memang keras seperti batu. Mungkin semua benda di tempat ini telah membeku. Dalam keadaan seperti itu Karma segera sadar siapa dirinya. Ia adalah Gatotkaca punya adik bernama Maria. la mempunyai banyak kesaktian yang sewaktu-waktu bisa saja digunakan.
"Aku punya aji Pancasona," katanya dalam hati. Entah dari mana ajian itu diperolehnya.
Karma yang sudah berubah menjadi Gatotkaca itu merasa perlu menggunakan aji Pancasona yang merupakan aji pamungkas jika menghadapi kesulitan. Maka dipilihnya tempat yang tenang.
la segera duduk bersila dengan memusatkan perhatian. Matanya dipejamkan. Kedua alat pendengaran dimatikan. Dengan kedua tangan menadah ke langit ia meminta, "Tuhanku! Ya, Allah! Kaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Berilah aku petunjuk-Mu!"
Ajaib sekali. Dari dalam tubuh Karma memancar cahaya terang, seterang alam pikirannya saat itu. Segala sesuatu seakan-akan menjadi nyata dalam pikirannya. Sekarang ia baru mengetahui bahwa ia sedang berada di tempat yang sangat jauh dari tempat asalnya. Ia berada di satelit planet bumi, yaitu bulan. Istana yang ditempatinya entah milik siapa.
Karma yang sudah berubah menjadi Gatotkaca itu merasa perlu menggunakan aji Pancasona yang merupakan aji pamungkas jika menghadapi kesulitan. Maka dipilihnya tempat yang tenang.
la segera duduk bersila dengan memusatkan perhatian. Matanya dipejamkan. Kedua alat pendengaran dimatikan. Dengan kedua tangan menadah ke langit ia meminta, "Tuhanku! Ya, Allah! Kaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Berilah aku petunjuk-Mu!"
Ajaib sekali. Dari dalam tubuh Karma memancar cahaya terang, seterang alam pikirannya saat itu. Segala sesuatu seakan-akan menjadi nyata dalam pikirannya. Sekarang ia baru mengetahui bahwa ia sedang berada di tempat yang sangat jauh dari tempat asalnya. Ia berada di satelit planet bumi, yaitu bulan. Istana yang ditempatinya entah milik siapa.
Sckelilingnya dihiasi gemerlap cahaya, entah cahaya apa. Udara di sekitarnya terasa sangat dingin. Langit berwarna kelabu dan gelap.
Alam semesta sungguh luar biasa. Itu baru sebagian kecil dari kekuasaan Tuhan. Luas alam semesta tidak bisa diukur dengan hitungan apa pun. Batas-batasnya tidak diketahui. Manusia tidak mungkin mampu memperkirakannya. Hanya Tuhan yang tahu.
Alam semesta terdiri atas segala macam materi, termasuk tenaga dan radiasi yang ditemukan manusia dan segala hal lain yang diketahui atau diyakini bahwa itu ada di dalam antariksa. Tata surya, tempat terdapatnya bumi hanyalah sebagian kecil dari alam semesta. Bumi sebagai tempat kedudukan dan kehidupan manusia yang menurut manusia luas, sesungguhnya hanyalah secuil bagian dari alam semesta.
Di alam semesta terdapat tata surya. Satu tata surya terdiri atas satu matahari dan semua benda angkasa yang beredar mengelilinginya. Matahari adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Benda-benda angkasa yang bergerak mengelilingi matahari atau bintang dinamakan planet.
Matahari dalam tata surya kita hanyalah satu dari dua ratus milyar lebih bintang yang membentuk suatu galaksi raksasa yang disebut Bimasakti. Garis tengah galaksi Bimasakti kira-kira seratus ribu tahun cahaya. Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam satu tahun, yakni sekitar 9.460.530 juta kilometer. Apabila dibandingkan dengan Bimasakti saja, planet bumi tempat tinggal manusia tidak lebih dari titik kecil.
Matahari adalah pusat tata surya kita. Tata surya terdiri atas satu matahari, sembilan planet, dan semua benda antariksa lain yang bergerak mengelilingi matahari. Salah satu dari sembilan planet itu adalah bumi tempat tinggal manusia.
Bumi adalah salah satu planet. Sebagian besar planet memiliki satelit atau bulan. Satelit adalah benda antariksa yang bergerak mengelilingi planet.
Karena planet-planet beredar mengelilingi matahari, matahari dinamakan pusat tata surya. Matahari merupakan bola gas yang sangat panas. Lapisan matahari yang menyilaukan, tempat asal Cahaya memancar, disebut fotosfer. Di sekeliling fotosfer terdapat lapisan gas merah cemerlang yang disebut kromosfer. Dari kromosfcr terlempar untaian hidrogen merah menyala sejauh ratusan ribu kilometer ke antariksa. Untaian hidrogen ini dinamakan prominensa. Di sekeliling kromosfer terdapat : lapisan gas lain yang disebut korona.
Matahari adalah bintang yang sangat besar. Garis tengah Matahari kira-kira 109 kali garis tengah bumi, atau kira-kira 1.392.000 kilometer. Berat total matahari kira-kira 331.950 kali berat bumi.
Permukaan matahari sangat panas. Panas matahari diukur dengan suhu mutlak. Ukurannya dinamakan derajat Kelvin (K). Pada suhu biasa digunakan ukuran derajat Celcius (C). Suhu permukaan matahari adalah 6.000” K dan suhu pusat matahari 15.000. 000” K. Suhu terendah pada matahari 4.000
Alangkah tinggi suhu matahari. Demikian tingginya sehingga di permukaan bumi pada siang hari terasa sangat panas, padahal jarak dari bumi ke matahari adalah 149.600.000 kilometer.
Tata surya kita terdiri atas satu bintang (matahari) dan sembilan planet. Diukur dari titik pusat matahari jarak planet satu dengan yang lain berbeda-beda. Ada yang dekat dengan matahari dan ada pula yang sangat jauh. Berturut-turut nama sembilan planet mulai dari yang paling dekat dengan Matahari adalah planet Merkurius, Venus, bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto.
Planct-planet bergerak mengelilingi matahari pada garis edarnya yang tetap dan menyerupai garis elips. Garis edar setiap planet ditentukan oleh jarak planet dari matahari. Karena jarak antarplanct berbeda-beda, garis peredarannya juga berbeda. Itulah sebabnya planet satu dengan yang lain dalam peredarannya tidak bertubrukan. Walaupun demikian bukan tidak mustahil pada suatt! ketika planet satu dengan yang lain bertubrukan.
Apabila pada suatu ketika planet bumi tempat tinggal manusia bertubrukan dengan planet lain, sungguh sangat dahsyat akibatnya. Planet akan hancur. Saat itulah yang dijanjikan Tuhan sebagai hari kiamat.
Untuk mengetahui garis edar planet-planet dapat dilihat dari jarak antarplanet itu sendiri. Berikut ini adalah jarak antarplanet.
Jarak matahari ke Merkurius 57.910.000 kilometer.
Jarak Merkurius ke Venus 50.300.000 kilometer.
Jarak Venus ke bumi 41.390.000 kilometer.
Jarak bumi ke Mars 78.340.000 kilometer.
Jarak Mars ke Yupiter 550.360.000 kilometer.
Jarak Yupiter ke Saturnus 649.020.000 kilometer.
Jarak Saturnus ke Uranus 1.436.520.000 kilometer.
Jarak Uranus ke Neptunus 1.614.600.000 kilometer.
Jarak Neptunus ke Pluto 1.383.000.000 kilometer.
Karma yang sudah berubah menjadi Gatotkaca itu memandang sekelilingnya. Ia melihat benda-benda bulat beterbangan. Semua tampak bergerak mengelilingi matahari yang berwarna merah api. la tahu salah satu benda bulat berwarna biru kehijau-hijauan itu adalah planet bumi tempat tinggalnya dahulu. Tidak salah lagi ibu dan adiknya, Maria tentu berada di planet itu.
Bumi yang dahulu dikenalnya pipih seperti kepingan uang logam ternyata bulat seperti bola. Planet bumi bertetangga dekat dengan Venus. Jaraknya kira-kira-41.390.000 kilometer. Bumi dan Venus sama-sama mengelilingi matahari.
Karma teringat cerita guru agamanya di sekolah. Kelak pada suatu ketika Tuhan memusnahkan seluruh kehidupan di dunia, kiamat namanya. Mungkin kiamat itu diakibatkan bumi ber tubrukan dengan planet lain. Bisa jadi dengan Venus yang jaraknya lebih dekat dengan bumi.
Alangkah ajaibnya alam semesta ini. Bumi yang ditempati manusia seperti bola terbang. Bumi mengapung-apung di antariksa menggelantung di awang-awang. Itulah bukti kekuasaan Tuhan.