BERTEMU DEWI MALAM - PART 4

lexim
0
Karma masih bingung mengapa dirinya ditempat asing dengan pakaian Gatotkaca. Kalau memang yenar-benar Gatotkaca mengapa tinggal dalam istana seorang diri, padahal menurut cerita Ki Dalang, Gatotkaca itu seorang bahureksa, panglima perang. Seorang panglima biasanya dikawal oleh ajudan.

"Benarkah aku ini Gatotkaca?" tanya Karma pada dirinya sendiri. Kembali dipandangi dirinya sendiri. Pakaian yang melekat di tubuhnya memang mirip pakaian wayang orang. Ada mahkota berukir indah. Memakai baju besi. "Ah, aku memang Gatotkaca," kata Karma pada dirinya sendiri.


Udara di sekelilingnya sebenarnya sangat dingin, tetapi Karma tdak menggigil. Jangankan menggigil terasa dingin pun tidak, Padahal banyak bagian tubuhnya yang terbuka. Memang aneh. Yang lebih aneh lagi bobot tubuhnya. Karma merasakan tubuhnya hampir tidak punya berat, padahal seminggu yang lalu ia baru ditimbang di puskesmas dan beratnya 36 kilogram. Di tempat asing tu berat badan Karma terasa tidak lebih dari enam kilogram saja. Ringan sekali, Pada saat berjalan rasanya seperti terbang tertiup angin.

“Ini tentu pengaruh baju yang kupakai. Baju Antakusuma," katanya dalam hati. Menurut Ki Dalang, Gatotkaca bisa terbang seperti burung berkat memakai baju Antakusuma pemberian para dewa. Baju itu terbuat dari besi serta memiliki kesaktian yang luar biasa. Mungkin juga tahan peluru.

Sekonyong-konyong Karma teringat kembali akan ibu dan adiknya, Maria. Timbul niatnya untuk terus mencari. Kalau dirinya berada di tempat itu, maka mereka pun tentu berada di tempat itu. Demikianlah menurut pikirannya.

Karma terus berjalan menyusuri permukaan tanah yang ke: adaannya mirip di bumi. Karena bobot tubuhnya yang ringan, permukaan tanah yang dipijak hampir tidak berbekas. Langkahnya ringan sekali. Keadaan tempat ini mirip keadaan di bumi. Bedanya di tempat asing ini tidak ada rumput dan tumbuh-tumbuhan. Tidak ada pohon besar, kecuali batu-batuan yang mirip batang pohon. Tanahnya hampir diliputi pasir kering.

"Ibu! Maria!" Karma memanggil dengan berteriak keras sekali. Diulanginya berkali-kali. Aneh ia hampir tidak mendengar suara teriakannya sendiri. Tidak ada pula gema, padahal di sekelilingnya kosong melompong. Sunyi senyap sekelilingnya.

Keadaan yang sunyi-senyap membuat hati Karma tiba-tiba merasa takut. Langit di atas kepalanya tampak gelap kelabu. Begitu pula di sekelilingnya. Rasa takut dalam hatinya mendorong Karma untuk bergegas kembali ke istana. Menurut perasaannya keadaan di dalam istana jauh lebih hangat dan nyaman.

Baru beberapa langkah berjalan, tanpa diketahui dari mana datangnya tiba-tiba muncul di hadapannya seorang anak ber pakaian aneh.. Tangan anak itu menggenggam senjata. Larasnya mengarah ke tubuh Karma.

Karma memandang anak itu. Pakaian anak yang berdiri di hadapannya benar-benar aneh. Menurut Karma pakaian itu terlalu besar sehingga menyulitkan untuk bergerak. Kenyataannya tidak demikian. Gerakan anak itu jauh lebih gesit daripada Karma.

Warna pakaian yang dikenakan anak itu putih mengkilap sepeti terbuat dari logam metal. Tidak ada bagian tubuhnya yang terbuka sedikit pun. Kepalanya memakai helm yang juga terlalu besaf: Helm yang dipakai tampak seperti menyatu dengan pakaiannya. Karma ingin bertanya, tetapi ragu-ragu. la berusaha tersenyum menunjukkan rasa persahabatan.

"Hai!" sapanya.

Dari balik kaca helmnya mata anak yang berdiri di hadapannya menatap ke arahnya dengan pandangan menyelidik. Karma berusaha menghindari pandangan mata anak itu sambil berkata, "Aku ingin bertanya. Tempat ini apa namanya."

Anak itu tidak menjawab, melainkan memberi isyarat dengan ujung senjatanya. Karma disuruh berjalan. Tanpa banyak bertanya Karma melangkah mengikuti isyarat yang diberikan kepadanya. Agaknya Karma digiring memasuki istana melalui jalan samping.

Karma sempat menoleh ke belakang, melihat pakaian yang dikenakan anak itu. Karma teringat sesuatu. la pernah melihat gambar astronot yang dilihatnya pada sobekan kertas koran. Demikianlah pakaian anak yang sedang menodongkan senjata ke arahnya. Apakah dia astronot kecil? Karma bertanya dalam hati. Ia berdoa kepada Tuhan, semoga makhluk .yang sedang menodongnya termasuk jenis manusia serta beradab seperti makhluk bumi.

Karma digiring memasuki istana dari pintu samping menuju lorong sempit. Jalan yang dilaluinya agak menurun. Lorong itu berbelok-belok dan gelap.

"Aku mau dibawa ke mana?" tanya Karma.

Anak itu tidak menjawab, melainkan mengacungkan senjata ke arah perut Karma. Terpaksalah Karma berjalan agak cepat.

Lorong kecil itu ternyata satu-satunya jalan menuju bagian istana yang lain. Jalan yang dilalui semakin baik. Beberapa saat kemudian Karma sampai di sebuah ruangan luas berwarna keperakan. Ruangan itu terang-benderang.

Sesampainya di dalam ruangan, Karma melihat empat orang anak seperti sedang menunggu kedatangannya. Pakaian mereka sama seperti yang dikenakan anak yang menggiring dirinya. Keempat anak itu membuka helm masing-masing kemudian duduk di kursi khusus.

Karma terperanjat kaget. Wajah mereka sangat dikenali Karma. Betapa tidak. Mereka adalah teman-teman sekolah Karma. Anak yang paling besar dan berbadan jangkung bernama Dodon. Yang berbadan gemuk bernama Obos. Seorang lagi bernama Gani. Sedangkan anak perempuan yang duduk dekat Gani adalah Ima.

BERTEMU DEWI MALAM - PART 4

"Ya, Allah!" Karma bersorak gembira: "Aku kira kalian siapa. Aku gembira sekali bertemu kalian di tempat asing'ini. Bagaimana kalian datang ke tempat ini? Dari mana pula kalian mendapatkan pakaian aneh seperti itu?"

Mereka tidak bergeming, kecuali saling berpandangan. Karma mengerutkan kening. Matanya menyipit.

"Kalian tidak mungkin lupa kepadaku sebagaimana aku terhadap kalian," kata Karma. "Atau. . . mungkin karena pakaianku seperti-ini. Percayalah aku sendiri tidak tahu mengapa aku berpakaian seperi Gatotkaca. Aku tidak punya pakaian lagi, kecuali ini."

Mereka masih membisu membuat Karma semakin merasa heran. :

"Bisakah kalian bicara?" tanya Karma. "Kamu Dodon, bukan? - Kamu Obos, kamu Gani, dan kamu Ima. Bicaralah!"

Kembali mereka berpandangan. Sementara itu, anak yang menggiring Karma duduk di kursi khusus sambil membuka helm penutup kepalanya.

Karma terkesiap. Meskipun pakaian anak itu aneh, Karma tidak akan lupa akan wajah adiknya sendiri. Anak yang baru saja duduk dan membuka penutup kepalanya ternyata Maria.

"Maria!" seru Karma sambil hendak memeluk anak itu. Belum lagi Karma bergerak, keempat anak yang menurut pandangan Karma adalah teman-temannya segera menghalangi. Karma memprotes sambil membelalakkan matanya.

"Hai! Mengapa kalian?" katanya. "Kalian jangan menghalangi aku. Minggirlah!"

Karma berusaha melangkah, tetapi keempat anak itu semakin rapat menghalangi dan menyuruh Karma mundur.

“Apararti semua ini?" tanya Karma kebingungan. "Dia adikku, Maria. Kalian tahu itu, Mengapa kalian menghalang-halangi aku! Maria! Sejak tadi aku mencari-cari kamu dan Ibu. Sekarang kamu sudah ku temukan. Ibu di mana, Maria? Aku sedih sekali memikirkan katian."

Orang yang diajak berbicara diam saja. Dengan agak kesah Karma berkata lagi, "Mengapa kamu diam saja, Maria?"

"Aku bukan Maria," jawab anak perempuan itu.

Karma tertawa terbahak-bahak. Di antara tawanya ia berkata, “Sandiwara apa yang sedang kalian mainkan? Aku tidak buta. Mana mungkin aku melupakan wajah adikku sendiri."

"Hai, Pesek!" tiba-tiba anak yang paling gendut berkata sambil menodongkan senjatanya. "Kalau bicara jangan sembarangan. Sekalilagi berbicara seperti itu akan kutembak kamu!" 

"Kalian kira aku ini siapa?" tanya Karma tidak merasa gentar sedikit pun. “Walaupun hidungku sedikit agak pesek, tetapi aku ini Gatotkaca. Jangan menghina, ya!"

 "Kamu kira kami ini siapa?" kata anak yang bertubuh jangkungsambil mengacungkan senjata ke arah Karma. "Siapa Maria? SiapaGani, Dodon, Obos, dan Ima? Teman-teman kamu?" 

"Kamu Dodon, bukan? Ya, Allah! Mengapa kamu lupa namamu sendiri, Don." 

"Aku bukan Dodon," kata anak itu. "Namaku Triton."

"Triton?" ulang Karma. "Sejak kapan nama Dodon diganti Triton. Mentang-mentang berpakaian bagus, nama diganti." "Kamu menghina!" kata anak itu sambil hendak memukul.

"Tahan!" kata salah seorang di antara mereka. "Aku tidak takut," kata Karma. "Dodon mungkin sudah gila, Gani."

"Aku bukan Gani," tukas anak itu. "Namaku Ganimedes, tahu!" "Gani... apa? "Ganimedes, bukan Gani dan Medes."

"Bagaimana kalau aku panggil Gani saja." "Tidak bisa. Panggil nama harus lengkap," kata Ganimedes.

"Temanku yang berbadan gemuk ini bernama Fobos."

Karma tersenyum.

"Mengapa tersenyum?" tanya Ganimedes.

"Di negeri kami dia dinamakan bayi sehat!"

"Terserah," kata Ganimedes. "Nah, yang perempuan dekat aku ini bernama Deimos."

Karma coba menygingat-ingat sambil berkata perlahan.

“Ganimedes, Triton, Fobos, Deimos. : ." gumamnya.

"Tahukah kamu siapa yang duduk di kursi khusus itu?"

"Maria," jawal: Karma. "Dia adalah ratu kami, ratu yang menguasai tempat ini. Namanya Dewi Malam. Mengerti?

"Dewi Malam? Di negeri kami nama itu kata kiasan untuk bulan purnama."

"Dia memang penguasa bulan," kata Ganimedes. "Kamu berada di tempat kekuasaannya tanpa izin.. Kamu melanggar undangundang di bulan. Aku sebagai panglima perang di sini bertanggung jawab atas keamanan wilayah. Kamu adalah tawanan kami."

"Jadi. . .sekarang ini aku berada di bulan?"

"Kamu makhluk asing yang tampak primitif,” kata Deimos yang sejak tadi berdiam diri. Anak perempuan itu maju satu langkah. "Baru kali ini kami melihat makhluk aneh seperti kamu. Dahulu “pada tanggal 21 Juli 1969 kami juga kedatangan tamu asing. Menurut data kami, mereka datang ke sini dengan pesawat Apollo XI. Mereka orang Amerika bernama Neil Armstrong dan Edwin E. Aldrin. Mereka turun di Laut Ketenangan wilayah timur daerah kami ini. Seorang lagi berada di dalam modul komando dan mengedari bulan. Dia bernama Michael Collins. Pakaian mereka tidak seperti kamu. Kami baru saja hendak menangkap ketika mereka kembali ke dalam pesawat lalu pergi. Sekarang kamu tertangkap langsung oleh ratu kami."

. "Apa salahku?" tanya Karma.

"Kamu adalah tawanan kami. Kami yang bertanya dan kamu menjawab!" bentak Ganimedes. "Apakah kamu termasuk salah seorang di antara orang-orang Amerika itu?"

"Aku orang Indonesia," jawab Karma dengan gagah. "Benderaku Merah Putih. Lagu kebangsaanku Indonesia Raya. Dasar negaraku Pancasila. Aku tidak kenal siapa mereka." !

Mereka saling berpandangan dan berbisik satu dengan lainnya. Tidak lama kemudian mereka bergabung mengerumuni Dewi Malam, yang tampak di mata Karma sebagai Maria, adiknya.

"Orang primitif itu menarik sekali," kata Dewi Malam setengah berbisik. "Lihatlah pakaiannya! Baru kali ini aku melihat astronot berpakaian seperti itu."

"Kita tahan saja," kata Fobos. "Dia sudah menghina aku."

"Betul. Tahan saja," sambung Triton. "Dia mengira aku Dodon. Itu penghinaan besar, Dewi." 

"Menurutmu bagaimana, Ganimcdes?"

“Aku sependapat dengan mereka. Makhluk ini tampak jinak, tetapi cukup berbahaya. Lihat saja matanya."

"Tunggu dahulu," kata Deimos yang tampak lebih tenang. Dia orang yang bertanggung jawab atas ilmu pengetahuan bagi ratu Dewi Malam. "Makhluk ini mungkin bisa aku jadikan bahan penelitian," katanya. "Setelah penelitianku selesai, terserah kalian."

"Kalau kecerdasannya lebih tinggi daripada kita, makhluk itu lebih berbahaya, bukan?" tanya Ganimedes."Aku kira Deimos bisa menanggulanginya," kata Dewi Malam. "Untuk sementara masukkan dahulu dia ke dalam tahanan!" "Baik, Dewi," jawab Ganimedes kemudian memborgol Karma. "Aku mau diapakan?" tanya Karma.  "Jangan banyak bicara. Ikuti saja perintahku!" kata Ganimedes. Karma merasa kesal. Sebenarnya ia bisa saja melawan. Bagi Karma mudah sekali mengalahkan mereka. Dengan aji Brajamusti, mereka pasti akan hancur berkeping-keping, tetapi di hati Karma tidak ada niat sedikit pun untuk melakukan perlawanan. Perlakuan mereka masih dianggap baik. Entahlah kalau suatu saat mereka tiba-tiba menjadi kasar. Karma juga tidak akan tinggal diam. Dengan minat ingin mengetahui lebih banyak, Karma menurut saja ketika digiring Ganimedes menuju salah satu ruangan. Karma disuruh memasuki ruangan itu. Ruangan itu kemudian dikunci dari luar. 

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)