JADI OBJEK PENELITIAN - PART 5

lexim
0
Ruangan tempat Karma ditahan tidak seperti ruangan di bumi. Ruangannya sangat bersih dan terawat. Lantai dan dindingnya berwarna putih bersih. Ada beberapa peralatan yang Karma tidak tahu apa gunanya. Pada setiap sudut ruangan dipasang kamera mengarah ke tengah ruangan. Karma tidak menyadari bahwa dirinya sedang diawasi melalui peralatan canggih itu. Setiap gerak-geriknya dicatat dan direkam oleh peralatan khusus.

Karma teringat dirinya belum salat. Ia tidak mengetahui waktu. la tertegun diam. Sesungguhnya itulah yang paling ia takuti, takut. meninggalkan kewajibannya beribadat kepada Tuhan. la mencari kian kemari, mencari air untuk berwudu. Dalam ruangan itu tidak ada air setetes pun. Mungkin di bulan tidak ada air. Jika tidak ada air sama sekali, maka wudu bisa diganti dengan tayamum, yaitu wudu dengan menggunakan debu, sama sucinya seperti wudu.

Dengan niat bersuci Karma melekatkan kedua telapak tangan pada dinding, kemudian melakukan tayamum menurut aturan dan Syarat tayamum. Tayamum adalah menyapukan tanah ke muka dan kedua tangan sampai siku dengan beberapa syarat. Tayamum adalah pengganti wudu atau mandi sebagai keringanan untuk orang yang tidak dapat memakai air karena beberapa alasan.

Yayamum dapat dilakukan karena seseorang sakit. Apabila ia terkena air, maka sakitnya bertambah-tambah atau lambat sembuh. nya menurut keterangan dokter atau yang mengobatinya. Orang yang sakit itu boleh bertayamum.Tayamum boleh dilakukan ketika seseorang sedang dalam per. jalanan yang tidak bisa ditangguhkan. Misalnya dalam pesawat terbang dan tidak ada air di dalamnya.

Tayamum dilakukan jika benar-benar tidak ada air. Dalam Alguran antara lain dinyatakan, "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih): sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur". (Al-Maidah:6)

Karma membacakan niat sebelum tayamum karena hendak menjalankan salat karena tayamum semata-mata dilakukan untuk melakukan salat karena darurat. Setelah ia melekatkan tangan pada dinding, ia menyapukannya ke muka. Sekali lagi ia melekatkan kedua telapak tangan pada dinding lalu menyapukannya pada kedua tangan sampai siku.

Selesai tayamum Karma kembali bingung. la tidak tahu ke mana arah kiblat, sedangkan salah satu syarat sahnya salat adalah menghadap ke kiblat. Akan tetapi, perlu diketahui Allah tidak hendak menyulitkan umat-Nya. Di dalam Alguran antara lain dinyatakan, Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka salatJah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (salatlah) sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (Ak Bagarah:239)

Makna berjalan kaki atau berkendaraan dalam ayat suci di atas adalah menghadap ke kiblat atau tidak menghadap ke kiblat. Bagi Karma yang saat itu tidak tahu arah kiblat, ketentuan itu berlaku pula baginya. la dapat salat menghadap ke arah mana pun yang diyakininya sebagai arah kiblat. Surat Al-Bagarah, Ayat 239 menghilangkan keraguan Karma. Dia salat dengan niat yang suci.

Sementara itu, di ruang pengawasan, Dewi Malam, Deimos, Fobos, Ganimedes, Triton menyaksikan tingkah laku Karma yang dianggap aneh.

"Dia mencium tanah berkali-kali. Apa maksudnya?" tanya Fobos.

"Dia makhluk berbudaya," jawab Deimos yang berkepentingan dengan penelitian itu.

"Bawa dia menghadapku!" kata Dewi Malam memerintah.

Ganimedes yang bertanggung jawab atas semua tahanan bergegas pergi. Agaknya Dewi Malam sangat tertarik terhadap kelakuan Karma. Lebih-lebih ketika Deimos mengatakan bahwa Karma sebagai makhluk yang berbudaya.

"Aku membutuhkan makhluk seperti dia," kata Dewi Malam. "Mungkin kita bisa mengembangbiakkan makhluk itu di sini. Kalian harus ingat, aku hanya membutuhkan makhluk yang cerdas."

"Kalau itu yang Dewi inginkan, maka kami. bisa mengaturnya, kata Deimos.

Tidak lama kemudian Ganimedes muncul membawa Karma yang baru selesai salat. Ganimedes menyuruh Karma berdiri menghadap Dewi Malam.

JADI OBJEK PENELITIAN

"Kami mengetahui gerak-gerikmu dalam tahanan," kata Dewi Malam. "Apa yang telah kamu lakukan? Apa maksudnya?"

"Aku menghadap Tuhan," jawab Karma sejujurnya.

Mereka saling berpandangan. Baru kali itu mereka mendengar istilah Tuhan.

"Tuhan itu Allah.” Karma menjelaskan. "Dia pencipta alam semesta, pencipta kita semua. Aku dan kalian tidak mungkin ada tanpa diciptakan oleh-Nya. Tempat kita berpijak tidak akan ada tanpa diciptakan-Nya. Bangsa di negeri kami sangat mengagungkan Allah sebagai Maha Pencipta. Aku adalah salah seorang umat-Nya. Apa yang aku lakukan tadi adalah salah satu cara memuja keagungan-Nya." "Pendusta!" tukas Fobos. "Di sini yang kami agungkan adalah Dewi Malam. Dia benar-benar harus ditahan." :

"Tunggu!" tukas Dewi Malam. "Biarkan dia bicara!"

Deimos berbisik-bisik kepada Dewi Malam. Tidak jelas apa Yang dikatakannya. "Kamu memang makhluk aneh," kata Deimos kemudian kepada Karma. "Apakah yang telah kamu lakukan itu termasuk keyakinan?" “Ajaran agama," jawab Karma. "Bangsa kami memiliki budaya tinggi. Mungkin tidak dimiliki oleh bangsa kalian."

"Apakah Tuhanmu seperti ...."

“Tidak dapat dilihat dengan mata atau peralatan canggih apa pun."

"Kalau begitu . . . bangsamu mempercayai sesuatu yang tidak tampak."

"Kami yakin Dia ada dan mencipta," kata Karma. "Kalau Allah mau, maka alam semesta ini akan dimusnahkannya termasuk aku dan kalian. Percayalah!"

"Hm, menarik sekali . . ." gumam Dewi Malam. "Kalau begitu sekarang aku tahu. Kamu tentu berasal dari planet ketiga dalam tata surya ini." .

"Planet ketiga?"

"Ya. Earth namanya. Sebagian lagi menyebutnya bumi."

"Ya. Aku datang dari planet bumi," kata Karma dengan mata menyala-nyala.

Mereka berkerumun lagi dan berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti Karma. Tidak. lama kemudian Deimos bicara menghadapi Karma.

"Kami pernah dengar tentang planet kamu," katanya. "Kami tinggal di satelit yang mengelilingi planet bumi. Planet kamu terlalu padat dengan makhluk bermacam-macam, mulai dari makhluk terkecil sampai dengan makhluk terbesar. Rambut kalian berbedabeda. Mata dan kulit kalian juga bermacam-macam. Begitu juga bahasa yang kalian gunakan. Kami di sini mengerti bahasa kalian semua."

“Kami adalah manusia," kata Karma. "Di hadapan Tuhan semua manusia tidak ada bedanya. Harkat dan derajat kami sama."

"Kami dengar kalian sering saling bermusuhan. Apakah benar? tanya Dewi Malam. :

"Apa bedanya dengan kalian yang memusuhiku?" tukas Karma dengan berani. "Di bumi kami bukan saling bermusuhan, melainkan mempertahankan kebenaran. Sctclah berperang kami berdamai kembali."

"Kalau berperang untuk berdamai apa gunanya berperang? Mengapa kalian tidak berdamai saja selama-lamanya? Keadaan kami di sini damai abadi, tidak ada perang. Jika ada pengacau seperti kamu, maka kami siap mengusirnya," kata Ganimedes yang menjabat sebagai panglima perang.

"Aku .bukan pengacau. Berani sumpah!" kata Karma bersungguh-sungguh. "Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba berada di tempat ini. Yang aku ingat saat itu sedang tidur. Itu saja."

"Berarti kamu sedang dalam keadaan mimpi," kata Deimos. Sesaat Deimos bicara kepada teman-temannya dengan nada meyakinkan. "Dia tidak akan mati meskipun kita bunuh, sebab dia dalam keadaan bermimpi. Biarkan saja dia hidup."

"Bunuh saja!" kata Fobos. “Undang-undang kita mengatakan bahwa setiap ada makhluk asing harus dimusnahkan."

.“Tungguh dahulu!" kata Karma dengan berani. "Aku ingin bicara dengan Dewi Malam." |

"Bicaralah!" kata Dewi Malam. -

"Benarkah undang-undang di sini mengatakan bahwa setiap makhluk asing harus dibunuh?"

"Benar."

"Apa bedanya dengan teman-temanmu itu? Mereka adalah makhluk asing di sini," kata Karma. "Aku tahu. Fobos dan Deimos berasal dari sekitar planet Mars. Triton dari planet Neptunus, Ganimedes dari planet Yupiter, dan aku dari planet bumi. Hanya kau seorang yang berasal dari bulan. Bulan adalah satelit planetku, bumi. Kalian tidak ada apa-apanya bagi kami. Kalian hanya" makhluk satelit yang kecil."

Mereka tertegun kaget. Aneh, pikir mereka. Makhluk primitif ini memiliki kecerdasan yang luar biasa. la mengetahui asal-usul mereka. : Ganimedes, Fobos, Deimos, dan Triton gemetar. Mereka takut Dewi Malam akan lebih membela manusia bumi daripada mereka.

Mereka merasa terancam kedudukannya oleh Karma. Entah bagaimana mulanya panglima perang Ganimedes tiba-tiba mencengkeram tubuh Karma. Dengan kekuatan yang luar biasa ia melemparkan tubuh Karma hingga terlontar jauh sekali.

Karma tidak mampu berbuat apa-apa karena keseimbangan tLbuhnya hilang seketika. Ia melayang-layang seperti sebongkah batu yang dilemparkan dari tempat tinggi. Beberapa saat kemudian tubuhnya yang cukup berat itu membentur permukaan bumi.

"Aduh!" seru Karma. Kepala dan tubuhnya jatuh di atas tanah. Salah satu kakinya menendang kaleng kosong sehingga menimbulkan suara nyaring.

"Karma! Karma! Kamu jatuh?" tanya ibunya yang baru muncul dari sumur. Rupanya wanita itu sudah agak sehat.

"Uh!" Karma mengeluh sambil memegangi kepalanya yang benjol. Ia baru saja terjatuh dari atas tempat tidurnya. Ia melihat ke sekeliling. Ia hanya melihat dinding anyaman bambu dan lantai tanah, dan merasakan udara lembab. Mana Dewi Malam, Deimos. Fobos, Triton, dan Ganimedes?

Ya, Allah! Kiranya kejadian-kejadian ajaib yang baru saja dialaminya hanyalah mimpi. Ia beringsut bangkit dan membantu ibu'nya yang susah-payah berjalan.

"Marisaya bantu, Bu," katanya. "Mengapa Ibu tidak membangunkan saya? Ibu masih sakit, tidak boleh pergi ke sumur sendirian."

“Ibu bosan tidur terus, Karma. Ibu benci empat tidur itu," kata ibunya.

"Mengapa Ibu putus asa?" tanya Karma terheran-heran. Wanita itu tidak menjawab. Bola matanya saja yang berkaca-kaca.

Hari baru telah tiba ditandai dengan tetesan air mata ibu Karma.
Tags:

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)