Matahari masih belum terbit. Dua titik berkilauan di langit timur masih tampak dengan jelas. Entah mengapa subuh itu ia ingin sekali memandangi langit untuk waktu yang sangat lama. Jiwanya serasa masih tertinggal di permukaan bulan.
Sayang sekali anak-anak dalam mimpinya di bulan itu sangat tidak bersahabat. Seandainya Ganimedes. tidak melemparkannya jauh-jauh mungkin saat ini Karma masih berada di bulan. Mimpi tadi malam ada hikmahnya pula bagi Karma. Setelah mimpi yang panjang itu setidak-tidaknya sekarang Karma mengetahui bahwa sepasang bintang fajar yang disebut-sebut oleh adiknya, Maria sebenarnya bukan bintang. Karma mengetahui hal tu dari Deimos dalam mimpi.
Dalam tata surya terdapat sembilan planet yang mengedan matahari. Salah satu di antaranya bumi yang dihuni oleh manusia. Planet pertama dan kedua sebelum bumi adalah Merkurius dan Venus,
Merkurius terletak paling dekat dengan matahari. Jaraknya dari matahari sekitar 57.910.000 kilometer. Planet Merkurius adalah planet terkecil dalam tata surya. Garis tengahnya kira-kira 4.880 kilometer atau sekitar sepertiga besar bumi. Merkurius sulit diamati tanpa menggunakan teleskop.
Orbit Merkurius paling dekat dengan matahari membentuk elips hampir sempurna. Karena jaraknya dekat dengan matahari, Merkurius mengelilingi matahari lebih cepat daripada planet-planet lain. Merkurius mengedari matahari sekali dalam 88 hari bumi.
Planet lain yang dekat dengan matahari setelah Merkurius adalah Venus. Planet ini jauh lebih besar daripada Merkurius. Garis tengah Venus sedikit lebih kecil daripada bumi, yaitu 12.112 kilometer. Garis tengah bumi 12.756 kilometer.
Venus mengedari matahari dengan orbit hampir membentuk lingkaran. Venus mengedari matahari sekali dalam 225 hari bumi. Jika dipandang dengan teleskop dan dari bumi, planet Venus tampak sebagai planet paling terang di langit. Permukaannya diperkirakan sangat panas dan kering. Tidak ada air di planet Venus. Seluruh atmosfernya terdiri atas karbondioksida dan sedikit hidrogen, nitrogen, dan uap air.
Pada suatu ketika Merkurius dan Venus tampak dari permukaan bumi, yaitu pada saat matahari belum terbit atau setelah matahari terbenam. Dengan demikian pada saat-saat itulah kedua planet tampak cemerlang di langit seperti sepasang bintang.
"Mengapa Kak Karma melamun?" tiba-tiba Maria mengusik.
"Ah, tidak."
"Karena Ibu, ya?"
"Ya," jawab Karma. "Aku sedih melihat Ibu. Ibu tadi ke sumur sendiri padahal masih sakit."
"Mengapa Bapak tidak pulang-pulang, Kak?"
"Nanti juga pulang," kata Karma menghibur.
"Membawa baju untukku?" "Tentu."
"Boneka juga?" Ya. Semua dia bawa untuk kamu." Asyik!" sorak Maria gembira.
Karma membohongi adiknya. la tidak tahu di mana saat itu ayahnya berada, hidup atau mati. Walaupun demikian ibu mereka berkeyakinan suaminya masih hidup dan akan kembali. Entahlah.
Maria tiba-tiba tertawa kecil. la teringat kejadian yang tadi menimpa kakaknya. Dengan mata kepala sendiri Maria menyaksikan kakaknya jatuh dari tempat tidur dan salah satu kakinya menerjang kaleng kosong.
"Aku bermimpi," kata Karma. "Mimpiku seru sekali."
"Maukah Kakak menceritakannya untukku?"
"Mandilah dahulu, nanti aku ceritakan:"
Alangkah gembiranya hati Maria mendengar janji kakaknya. Ia sangat senang mendengarkan cerita yang seru-seru. Apalagi dalam mimpi kakaknya itu ia ikut berperan. "Dalam mimpi itu aku menjadi ratu, Kak?" sela Maria di antara cerita kakaknya. "Ratu itu semacam presiden, Kak?"
"Ya, semacam itu."
"Jadi ratu itu senang ya, Kak?" "Tidak."
"Mengapa tidak?" protes Maria. "Ratu punya istana bagus, banyak uang, banyak makanan ...." "Ratu punya istana, banyak "uang, dan banyak makanan, tetapi hidupnya tidak bebas. la banyak memiliki musuh. Banyak orang yang ingin mencelakakannya. Buktinya kalau pergi ke mana-mana ratu selalu dikawal dan diawasi oleh penjaga. Hidup selalu diawasi itu tidak bebas." , "Kalau begitu seperti burung dalam sangkar emas."
"Maukah kamu jadi burung?" "Tidak," jawab Maria. "Masih enak hidup seperti ini, Kak." Karma tersenyum sambil melemparkan handuk kepada adik nya. Maria menggigil oleh udara pagi yang dingin. Terdengar gemeretuk giginya yang beradu.
Alangkah damainya kakak beradik itu. Mereka saling mengasihi, saling menyayangi. Mungkin karena mereka sadar bahwa mereka perlu saling membantu.
Besar sekali perhatian Karma terhadap adiknya. Begitu besar perhatiannya sehingga kadang-kadang Karma lupa akan kepentingannya sendiri. Jika perlu ia bersedia tidak makan asal adiknya makan. Seperti halnya pagi itu, sisa nasi kemarin hanya sedikit, Karma mengalah dan memberikan nasi itu semua untuk Maria.
Pagi itu di balai desa orang-orang tampak sibuk membereskan bekas keramaian tadi malam. Sampah berserakan di halaman balai desa. Karma teringat, tadi malam memang ada pertunjukan wayang kulit.
Hari itu ternyata banyak sekali siswa yang tidak masuk sekolah. Di kelas Karma lebih dari delapan orang yang tidak hadir, termasuk Obos dan Gani. Mereka pasti masih tidur karena menonton wayang semalaman. Anak laki-laki di desanya umumnya gemar menonton wayang.
Ketika lonceng masuk berbunyi dan semua siswa sudah berada di dalam kelas, Karma menghampiri gurunya dan menyerahkan buku PR matematika. "Untuk apa?" tanya Bu Weni. Tampaknya Bu Weni lupa bahwa kemarin ia menghukum: Karma dengan memberinya sepuluh buah soal matematika. Bu Weni boleh lupa, tetapi Karma tidak. "Hari ini tidak ada pelajaran matematika," kata Bu Weni. "Maaf, Bu," kata Karma. "Kemarin Ibu memberi sepuluh soal dan harus saya serahkan kepada Ibu pagi ini." "O, ya! Ibu lupa. Simpan saja di situ!" kata Bu Weni yang diam: diam merasa kagum atas rasa tanggung jawab muridnya.