”Krawang!” Sekali lagi kenek kendaraan itu berteriak.
Janim melihat beberapa orang pada deretan bangku depan bergerak-gerak.
”Turun?” tanya seorang bapak yang duduk di samping Janim. Sejak sore ia selalu tidur.
”Betul,Pak.”
"Bawa saja barang-barangmu dekat pintu. Biar cepat bisa turun.
"Gaya tidak membawa barang, Pak.” "Ha ?" Orang setengah baya itu menatap Janim lurus-lurus.
"Saya hanya membawa ini.” Anak berumur sekitar 13 tahun itu mengangkat tasnya.
"Oh."
Bis mulai memasuki kota. Lampu bis pun dinyalakan. Ternyata ada lima orang yang akan turun di Krawang. Salah satu diantaranya seorang perempuan.
”Permisi,Pak.”Janim mulai berdiri. Sebab terminal bis Krawang tampak di kejauhan.
Meskipun hari masih gelap tetapi tempat itu cukup ramai. Para penjaja makanan hilir mudik menawarkan dagangannya sedangkan para calo berteriak-teriak menawarkan bisnya masing-masing.
”Jam berapa,Pak?” tanya Janim kepada seorang begitu kakinya menginjak tanah.
"Setengah tiga,”sahut orang itu sesudah melihat jam tangannya.
"Wah."
"Mengapa ?”
"Masih terlalu pagi, Pak.”
Orang itu tertawa. "Tunggu saja di sini,"ujarnyariang. ' . Janim setuju. Bagaimana jika ia minum kopi dahulu ? Uangnya masih cukup. Jika hanya dikurangi untuk membayar kopi saja masih ada sisanya. ”Kopi ,Pak,”katanya begitu ia duduk di depan sebuah angkring seorang penjual kopi.
”Pakai susu ?” Orang itu balik bertanya.
Tentu mahal, pikir Janim. Dari sebab itu dengan segera ja menjawab : "Tidak.” Sementara itu tangannya mencomot sebuah pisang goreng.
”Turun?” tanya seorang bapak yang duduk di samping Janim. Sejak sore ia selalu tidur.
”Betul,Pak.”
"Bawa saja barang-barangmu dekat pintu. Biar cepat bisa turun.
"Gaya tidak membawa barang, Pak.” "Ha ?" Orang setengah baya itu menatap Janim lurus-lurus.
"Saya hanya membawa ini.” Anak berumur sekitar 13 tahun itu mengangkat tasnya.
"Oh."
Bis mulai memasuki kota. Lampu bis pun dinyalakan. Ternyata ada lima orang yang akan turun di Krawang. Salah satu diantaranya seorang perempuan.
”Permisi,Pak.”Janim mulai berdiri. Sebab terminal bis Krawang tampak di kejauhan.
Meskipun hari masih gelap tetapi tempat itu cukup ramai. Para penjaja makanan hilir mudik menawarkan dagangannya sedangkan para calo berteriak-teriak menawarkan bisnya masing-masing.
”Jam berapa,Pak?” tanya Janim kepada seorang begitu kakinya menginjak tanah.
"Setengah tiga,”sahut orang itu sesudah melihat jam tangannya.
"Wah."
"Mengapa ?”
"Masih terlalu pagi, Pak.”
Orang itu tertawa. "Tunggu saja di sini,"ujarnyariang. ' . Janim setuju. Bagaimana jika ia minum kopi dahulu ? Uangnya masih cukup. Jika hanya dikurangi untuk membayar kopi saja masih ada sisanya. ”Kopi ,Pak,”katanya begitu ia duduk di depan sebuah angkring seorang penjual kopi.
”Pakai susu ?” Orang itu balik bertanya.
Tentu mahal, pikir Janim. Dari sebab itu dengan segera ja menjawab : "Tidak.” Sementara itu tangannya mencomot sebuah pisang goreng.
Di bagian tepi terminal itu jumlah penjual kopi tidak sedikit. Kendati demikian ,Janim hanya duduk seorang diri di depan penjaja tersebut. Padahal di tempat lain ada tiga atau empat orang menggerombol mengelilingi penjualnya.
”Dari Cirebon ?” tanya penjual kopi memancing. Sebuah gelas penuh kopi disorongkan ke arahJanim.
”Indramayu,” jawab anak itu.
Tepatnya di mana ?” ”Losarang.”
”Oh.”
”Bapak pernah ke sana.?”
?Sekali. Tetangga saya menantukan orang sana, jadi saya ikut.”
Untuk beberapa saat lamanya tidak seorang pun berbicara. Janim sedang menyerutupkopisedangkan penjual kopi mengipasi api. Beberapa kali bis sebesar gajah bengkak masuk terminal. ?Ada perlu sehingga kamu datang ke mari.”Penjual kopi itu mengajaknya omong kembali. ”Mencari ayah,” jawab Janim mantap. ?Ayahmu bekerja di Krawang?”
”"Ya. Ia bekerja sebagai kuli bangunan.” ”Hm.”
”Katanya tugasnya mengali tanah di tepi jalan.” ”Ada alamatnya ?”
”Ada. ”Janim berusaha membuka tasnya tetapi penjual kopi melarang.

"Tidak usah,”ujarnya. ”Krawang tidak begitu besar. Tentu dengan mudah kamu dapat mensmukan ayahmu. Mau kauajak pulang ?”
“Tidak.”
Lalu ?”
”Saya telah tamat SD.”
Apa itu ?”
”Sekolah Dasar.”
”Oh.”Untuk menutupi rasa malunya orang itu mengipas apinya kembali.
”Keadaan di desa susah.”
”Saya mengerti.”
”Padahal adik saya banyak.”
”Sekolah Dasar.”
”Oh.”Untuk menutupi rasa malunya orang itu mengipas apinya kembali.
”Keadaan di desa susah.”
”Saya mengerti.”
”Padahal adik saya banyak.”
”Berapa ?”
”Knam orang.”
"Anak saya tiga orang.”
”Itulah sebabnya ayah mencari pekerjaan di sini. Begitu pula saya menyusulnya ke mari.”
Tiga bis besar datang bersamaan. Para penjual menghambur ke sana. Sementara itu langit di sebelah timur berobah menjadi merah.
”Rugi,” gumam orang itu tiba-tiba.
”Rugi ?” Janim tidak mengerti maksudnya.
"Sejak jam enam sore kemarin saya berjualan di sini. Ternyata jualan saya hampir tidak tersentuh orang. Apakah ini tidak rugi ?” Janim merasa iba.
"Mungkin besok malam akan lebih baik,” Orang itu mencoba menghibur dirinya sendiri.
Ketika matahari menghangat dan Janim sudah sarapan nasi campur, maka ia bersiap-siap untuk mencari ayahnya. Menurut tukang wedang tadi malam, jalan Suryakencana sekitar 2 km jauhnya dari terminal. ''Tanya saja jika kamu tersesat atau tidak tahu jalan,”tambahnya. "Setiap orang tahu.”
Kota Krawang cukup ramai. Ratusan anak sekolah memenuhi jalan dengan sepedanya. Tidak sedikit pula diantara mereka yang berjalan kaki. Melihat hal ini Janim lalu ingat adik-adiknya di rumah. Justru karena merekalah ia bermaksud bekerja ikut ayahnya. Biar adik-adiknya mendapatkan beaya guna meneruskan sekolah. Tidak perlu ke sekolah umum seperti SMP atau SMA. Tidak. Sudah cukup jika mereka berbekal ijazah Sekolah Tehnik , Ekonomi atau Pertanian. Paling tidak ada ketrampilan yang dikuasai sehingga memudahkan jika akan mencari pekerjaan kelak. Saya akan mencarikan beaya untuk pendidikan mereka, katanya dalam hati. Hanya apa yang akan dilakukan ia kurang tahu. Tentu mencangkul. Dan mengenai mencangkul anak Losarang tidak perlu diajari orang lain. Sejak kecil ia sudah bergelimang dengan cangkul di sawah. Secepat kilat ia meloncat ke tepi dengan jantung berdetak keras. Sebaliknya mata sopir mobil mewah itu melotot menakutkan.
"Jalan Suryakencana ?” jawab seorang ketika Janim menanyakan.” Jalan pertama yang membelok ke kiri.”
Ternyata jalan itu besar dan baru diperbaiki. Meskipun demikian tak tampak seorang bekerja sama sekali. Ia menjadi curiga. Itulah sebabnya ia kembali ke ujung jalan untuk membaca nama jalan tersebut. Memang namanya benar. Jalan Suryakencana. Mengapa para pekerjanya tak tampak ?”
”Ibu tahu para pekerja yang bekerja di jalan?” tanyanya kepada sorang Ibu yang ke luar dari sebuah rumah sederhana. |
Berasal dari Cirebon ?” Ibu itu balik bertanya.
“Indramayu”, Janim membetulkan.
''Dua hari yang lalu mereka pindah.” Ke mana, Bu ?”
"Nanti dahulu.” Ibu itu memanggil anaknya, ”Jalan Siliwangi,” teriak gadisnya dari dalam.
”Dengar ?”Ibu itu menatap Janim kembali.
”Di mana letaknya, Bu?”
”Knam orang.”
"Anak saya tiga orang.”
”Itulah sebabnya ayah mencari pekerjaan di sini. Begitu pula saya menyusulnya ke mari.”
Tiga bis besar datang bersamaan. Para penjual menghambur ke sana. Sementara itu langit di sebelah timur berobah menjadi merah.
”Rugi,” gumam orang itu tiba-tiba.
”Rugi ?” Janim tidak mengerti maksudnya.
"Sejak jam enam sore kemarin saya berjualan di sini. Ternyata jualan saya hampir tidak tersentuh orang. Apakah ini tidak rugi ?” Janim merasa iba.
"Mungkin besok malam akan lebih baik,” Orang itu mencoba menghibur dirinya sendiri.
Ketika matahari menghangat dan Janim sudah sarapan nasi campur, maka ia bersiap-siap untuk mencari ayahnya. Menurut tukang wedang tadi malam, jalan Suryakencana sekitar 2 km jauhnya dari terminal. ''Tanya saja jika kamu tersesat atau tidak tahu jalan,”tambahnya. "Setiap orang tahu.”
Kota Krawang cukup ramai. Ratusan anak sekolah memenuhi jalan dengan sepedanya. Tidak sedikit pula diantara mereka yang berjalan kaki. Melihat hal ini Janim lalu ingat adik-adiknya di rumah. Justru karena merekalah ia bermaksud bekerja ikut ayahnya. Biar adik-adiknya mendapatkan beaya guna meneruskan sekolah. Tidak perlu ke sekolah umum seperti SMP atau SMA. Tidak. Sudah cukup jika mereka berbekal ijazah Sekolah Tehnik , Ekonomi atau Pertanian. Paling tidak ada ketrampilan yang dikuasai sehingga memudahkan jika akan mencari pekerjaan kelak. Saya akan mencarikan beaya untuk pendidikan mereka, katanya dalam hati. Hanya apa yang akan dilakukan ia kurang tahu. Tentu mencangkul. Dan mengenai mencangkul anak Losarang tidak perlu diajari orang lain. Sejak kecil ia sudah bergelimang dengan cangkul di sawah. Secepat kilat ia meloncat ke tepi dengan jantung berdetak keras. Sebaliknya mata sopir mobil mewah itu melotot menakutkan.
"Jalan Suryakencana ?” jawab seorang ketika Janim menanyakan.” Jalan pertama yang membelok ke kiri.”
Ternyata jalan itu besar dan baru diperbaiki. Meskipun demikian tak tampak seorang bekerja sama sekali. Ia menjadi curiga. Itulah sebabnya ia kembali ke ujung jalan untuk membaca nama jalan tersebut. Memang namanya benar. Jalan Suryakencana. Mengapa para pekerjanya tak tampak ?”
”Ibu tahu para pekerja yang bekerja di jalan?” tanyanya kepada sorang Ibu yang ke luar dari sebuah rumah sederhana. |
Berasal dari Cirebon ?” Ibu itu balik bertanya.
“Indramayu”, Janim membetulkan.
''Dua hari yang lalu mereka pindah.” Ke mana, Bu ?”
"Nanti dahulu.” Ibu itu memanggil anaknya, ”Jalan Siliwangi,” teriak gadisnya dari dalam.
”Dengar ?”Ibu itu menatap Janim kembali.
”Di mana letaknya, Bu?”
”Di seberang sungai Citarum.”
”Jauh ?”
”Sekitar 3 km dari sini.”
.Janim merasa loyo.”Permisi,Bu,”ujarnya lemah.
Ternyata jalan itu berada di luar kota sebab kini ia banyak melalui sawah dan kandang babi. Pada suatu ketika ia melewati kali Citarum. Sungai itu lebar tetapi hampir tidak berair. Sebaliknya disana penuh orang. Masing-masing berusaha untuk mencari pasir. Di tepinya, sekitar 100 meter dari jembatan, menggunung tumpukan pasir. Dan di dekatnya, berderet-deret truk yang akan mengangkutnya baik ke Jakarta maupun ke Bandung. Pakaian mereka basah kuyub. Sebab untuk mendapatkan pasir di dasar sungai mereka harus berendam.
"Jalan Siliwangi ? Itu Anak muda yang ditanya Janim menunjuk ke depan.
”Tempat orang-orang itu bekerja?” Jiwa anak laki-laki itu bertambah gairah.
Ya.”
”Terima kasih, Kak.”
Janim mempercepat langkahnya. Ia yakin sebentar lagi tentu akan bertemu dengan ayahnya. Lalu ia menggambarkan makanan enak yang akan disantap bersamanya nanti malam.
”Pak Amat?” Orang yang memegang cangkul memandangnya lurus-lurus.
”Dari Losarang, bukan ?” tanya temannya. Orang itu pun memegang cangkul.
”Ya,Pak.” Mata Janim bersinar.
”Bukankah ...” Orang kedua tidak meneruskan kalimatnya melainkan malah mengerling penuh arti ke arah temannya.
”Milemang.” Orang pertama menghela nafas dalam-dalam. "Ayahmu tidak ada di sini, Nak”, ujarnya lirih.
”Tidak ada,” Serasa dada Janim tertusuk pisau.
”Ta pergi ke Jakarta.”
”Seorang teman mengajaknya ke sana,” tambah temannya.
” Ah,” Janin merasa pusing.
”Katanya di sana ia akan memperoleh uang jauh lebih besar.”
Janim tidak mendengarkan lebih lanjut. Ia merasa risau. Ia membutuhkan ketenangan. ” Permisi, Pak, ”ujarnya lirih. Sesudah itu ia membalik lalu berjalan ke arah Krawang kembali.