KARSITA - PART 2

lexim
0
Hari cerah dan matahari pagi bersinar hangat. Suasana santai lagi nyaman terdapat di manamana. Orang menegur temannya sambil tertawa sedangkan daun-daun di pohon bergoyang-goyang tertiup angin seolah-olah merasa senang karena tersentuh rasa hangat matahari pagi. Tetapi semua itu tidak berpengaruh kepada Janim. Dengan muka cemberut lagi langkah loyo ia menuju ke kota Krawang kembali. Mengapa berbuat demikian, ia sendiri kurang tahu. Kakinyalah yang mengajaknya ke sana.

Pada suatu ketika sekali lagi ia lewat jembatan yang membentang di atas sungai Citarum. Untuk sejenak ia berhenti guna memperhatikan orang yang bekerja di bawah. Ternyata orang perempuan pun tidak kalah gesitnya dengan orang laki-laki. Mereka masuk ke dalam air lalu membenamkan dirinya guna mengambil pasir yang ada di dasar sungai. Pada waktu kepalanya menongol di atas permukaan air, kedua tangannya telah siap mengangkat sebuah tempayan penuh pasir halus. Tubuh orang perempuan itu dalam keadaan basah kuyub.

”Hm,” gumam Janim. Ia tidak bisa menggambarkan enaknya berbuat demikian. Pekerjaan itu terlalu berat.
 



Ketika kakinya mulai melangkah kembali, gedung-gedung yang letaknya berdekatan tampak di depan. Krawang, pikir Janim. Apa yang akan diperbuat sekarang ? Pulang ? Tak mungkin. Ia tidak mempunyai ongkos.Uangnya tinggal dua ratus perak. Tentu tidak mencukupi. Ke Jakarta ? Lebih tidak mungkin lagi. Ia tidak tahu di mana ayahnya bekerja.

Sementara kakinya melangkah maju. otaknya terus diperas untuk mencari jalan ke luar. Anehnya ia tidak pernah menemukan. Sebagai akibat ia merasa loyo lagi lemah. Jika tidak malu mau ia menangis sekuat tenaga.

”He!? Janim tersirap lalu menoleh ke arah asal suara tersebut.

”Lihat apa yang kau perbuat ?” Seorang laki-laki, berumur setengah baya menunjuk ke arah kakinya.

" Janim melihat ke bawah. ”Oh,” serunya seolah-olah minta maaf. Sesudah itu benang yang menyangkut pada kakinya dilepas.

"Tidak terasa?” tanya orang laki-laki itu heran. Janim menggelang.

"”Melamun, ya?”

Anak laki-laki itu tidak menjawab. Meskipun demikian ia tidak berusaha untuk meneruskan perjalanan. Entah apa sebabnya ia membutuhkan kehadiran seseorang. 

”Cacuk memang nakal. Benangnya diulur ke mana-mana,” ujar orang itu lagi.

”Siapa Cacuk?” tanya Janim.

"Ini dia.” Orang itu menarik seekor kera berwarna kelabu dari balik pohon.

”Oh.” Mata Janim berobah menjadi besar.

”Duduklah.”

”Tidak menggigit?” Perlahan-lahan anak itu mencari tempat untuk duduk.

”Ta seekor kera yang baik. Dan... he Gombloh... lekas ke mari.”

Apa yang menyusul? Seekor anjing gemuk pendek berwarna putih belang hitam ke luar dari balik pohon pula.

"Masih ada lagi?” tanya Janim bergairah.

"Saya hanya memiliki dua ekor hewan ini Saja.

"Untuk apa?”

Betul Ingin lihat?” Tanpa menunggu jawaban Janim orang itu lalu berseru: ”'Cacuk menari... menari... menari kataku.”

Kera itu menatapnya sebentar kemudian menari-nari sesuai dengan tingkah gamelan mulut majikannya.

”Jungkir balik,” perintah kedua ke luar. Kera itu berbuat seperti yang diperintahkan.

”Bagaimana ... dengan anjing ini?” tanya Janim tergagap.

”Akan kaulihat. Ayo Cacuk. Naik kuda,” perintah orang laki-laki itu sambil menunjuk anjing di sampingnya.

Kera itu mengerti. Dengan sekali lompat ia sudah berada di atas punggung anjing lalu membuatnya berjalan.

”Masih banyak kecakapan yang dapat dilakukan kedua hewan ini. Dengan memperlihatkan kepandaian mereka kepada anak-anak, saya mendapatkan uang untuk makan. "Perlahan-lahan orang itu menyulut rokoknya,” Tidak mudah untuk melatih mereka sehingga memiliki kecakapan seperti itu. Diperlukan banyak kesabaran dan waktu berbulan-bulan. "Tiba-tiba matanya memicing. "Mengapa Mmukamu kelihatan sayu?” tanyanya menyelidik.

"Kehilangan uang barangkali?” ” Ah. Tidak,” jawab Janim tergagap.

”Sedang mencari pekerjaan?”

Anak muda itu hanya menjawab ”'ya.”

”Buat orang yang rajin, di kota selalu tersedia pekerjaan melimpah. Hanya....” Orang tua itu tidak menyelesaikan kalimatnya melainkan malah menyedot rokoknya dalam-dalam?”Apa, Pak?” Jantung Janim berdetak cepat.

”Ja harus ulet dan pantang menyerah. Saya sudah terlalu tua untuk bekerja pada orang lain. Jadi yang saya lakukan terbatas pada menghibur orang. Tetapi kamu... jangan loyo begitu, Jang. Dongakkan kepalamu ke atas, hadapi kesukaran dengan kemauan yang keras. Kamu tentu berhasil.”

Janim menatap muka orang di depannya dengan perasaan aneh. Mengapa orang itu memberi nasehat tanpa diminta? Dan siapakah orang itu? Ia tidak mengenalnya sama sekali.

”Saya terpaksa meninggalkanmu, Jang,” kata orang setengah baya itu sekonyong-konyong. ?Anak-anak di seberang jalan mulai berkumpul. Ada rejeki untuk saya. Mari Cuk. Bloh.” Sesudah mengucapkan kalimat itu ia berdiri lalu mengajak kedua hewannya menyeberangi jalan.

Janim menatapnya agak lama kemudian meneruskan perjalanan ke arah kota. Bagaimana pun pertemuannya dengan bapak pemilik kera dan anjing itu berhasil mengisi semangatnya. Kini langkahnya bertambah mantap dan matanya bersinar. Ia tahu apa yang akan dilakukan. Tak lain mencari pekerjaan. Soal pekerjaan apa tidak penting baginya. Pokoknya mendapatkan uang.

Entah jam berapa pada waktu itu ia kurang tahu. Letak matahari bertambah tinggi dan keringat membasahi lehernya. Kini ia menelusuri jalan besar yang menuju terminal bis. Barangkali saja di sana ada pekerjaan untuknya. Tiba-tiba ketika melewati sebuah gudang tua bercat hitam, telinganya menangkap sayup-sayup bunyi seruling. Ia kenal benar lagu yang ke luar dari seruling tersebut. Tak lain lagu dari daerahnya. Seorang teman barangkali? Entah apa sebabnya rasa ingin tahunya tergugah. Di tempat yang asing dapat bertemu dengan seorang teman dari daerah asal yang sama, membuat jiwanya hangat. Dengan segera ia melangkah menuju gudang tersebut. Ia ingin kenal pemainnya.

Begitu kepalanya menonjol di atas dinding pendek, pandangannya menangkap seorang anak berumut sekitar 11 tahun sedang asyik meniup seruling. Tubuh anak itu kurus dan salah sebuah kakinya lebih kecil dari yang lain. Tentu jalannya pincang sebab di dekatnya terletak sebuah alat pembantu jalan. Anak itu mengenakan celana pendek hitam dan kaos oblong putih. Rambutnya gondrong dan dalam keadaan awutawutan. 

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)