BAYANG-BAYANG DI MALAM JUMAT - PART 1

lexim
0
Saat itu malam Jumat. Hujan turun lebat sekali disertai tiupan angin barat yang kencang dan dingin. Sekali-sekali kilat berkelebat di langit menguak tabir malam yang gelap gulita. Hujan turun sejak sore tadi, tepatnya sejak sebelum beduk asar berbunyi. 

Di daerah pegunungan hujan turun lebih lebat lagi. Air sungai yang membelah desa yang pada musim kemarau bening tidak berwarna kini tampak berwarna kecokelatan. Arusnya yang cukup deras, menerjang apa saja yang ada di sekitarnya. Batang pisang, lumpur bahkan jerami kering terbawa arus ke hilir. Sampah pertanian itu terseret derasnya air bah yang turun di bukit selatan.

Sampah pertanian itu semula berada di lahan-lahan yang baru saja dipanen dan sengaja ditumpuk sebelum dijadikan kompos oleh orang-orang gunung. Hujan yang lebat menyapu bersih bahanbahan kompos itu dan membawanya ke dataran rendah.

Hujan bagaikan dicurahkan dari langit tanpa diketahui kapan hendak berhenti. Lima jam sudah air ditumpahkan ke permukaan bumi. Sawah-sawah penuh dengan air. Halaman rumah dan pekarangan di desa itu juga penuh air.

Sekitar pukul sepuluh malam hujan mulai reda, disambung dengan hujan rintik-rintik. Hujan seperti itu biasanya berlangsung lebih lama. Mungkin akan berlangsung sampai keesokan harinya.

Kilat di langit utara masih berkelebat sekali-sekali menerangi air yang meluncur dari langit. Suara air hujan yang jatuh ke pelimbahan menambah dingin suasana malam. Dalam keadaan seperti itu belalang enggan berderik, kecuali katak air yang berpesta pora di kubangan dan genangan-gponangan air di sekitar pekarangan rumah.

Memang katak yang paling bergembira pada malam Jumat itu. Katak yang sehari-harinya hidup di dalam lubang-lubang dan celah batu di pekarangan itu berlompatan ke luar begitu mendengar hujan. Mereka berkumpul dalam kubangan, bersenda gurau dan saling gendong satu dengan lainnya.

Ada jenis katak yang memiliki perut lebih besar daripada katak lainnya. Kulit punggungnya berwarna kemerahan. Perutnya berbintik putih mirip jamur. Pada lehernya terdapat rongga udara, semacam selaput tipis yang bisa mengembang seperti balon. Rongga udara itulah yang membuat suaranya nyaring dan khas, tidak seperti suara katak pada umumnya. Katak jantan jenis ini mengeluarkan bunyi "ung", sedangkan yang betina mengeluarkan bunyi "ek". Katak-katak itu menyanyi berpasangan, kadang-kadang bertiga atau berempat. Iramanya lucu sekali. Ung-ek-ung-ung-ek. Mungkin karena bunyi dan iramanya yang lucu, penduduk desa ilu menamakannya blentung. Ada pula yang menamakannya kungkang.

Blentung itu berbunyi hampir sepanjang malam. Mereka berhenti 'menyanyi' setelah mendapat pasangan.

Rintik hujan di malam Jumat itu membuat suasana desa seperti perkampungan mati. Orang-orang lebih suka berdiam di dalam rumah mereka sambil menikmati nyanyian blentung.

BAYANG-BAYANG DI MALAM JUMAT - PART 1

Ada sebuah rumah yang sangat sederhana di ujung desa itu. Api lentera yang digantungkan di sudut rumah itu bergoyang poyang ditiup angin malam. Kaca lampunya renik tidak berwarna terkena percikan air hujan. Atap rumah itu terbuat dari daun tebu. Dindingnya dari anyaman bambu. Lantainya tanah.

Letak rumah kecil itu agak terpisah dari perumahan penduduk.Tepatnya di sebelah barat sungai yang mengalir seolah-olah membelah desa menjadi dua bagian, bagian barat dan timur. Di sebelah barat wungai terdapat sedikit sekali perumahan penduduk. Di sebelah timur sungai, jumlah rumah penduduk jauh lebih banyak, bahkan cenderung padat sekali. Mungkin karena pusat pemerintahan dan pasar desa berada di wilayah timur.

Malam terus merangkak. Perlahan tetapi pasti. Gerimis belum juga berhenti. Saat kilat berkelebat tampak sesosok bayangan berpayung daun pisang bergerak menyusuri jalan setapak. Sepasang kakinya yang telanjang menjejak tanah becek dan berlumpur tanpa ragu-ragu. Salah satu tangannya mendekap bungkusan kecil di dadanya yang kurus.

Sejenak ia menghentikan langkahnya. Tubuhnya gemetar menahan rasa dingin yang menyengat. Ia menoleh ke arah belakang yang gelap gulita. da merasa sedang diikuti oleh sesuatu yang tidak tampak, entah siapa. Ia tidak melihat apa-apa, kecuali gelap yang: pekat. la melangkah lagi lebih cepat. | Tn

Kembali kilat berkelebat pada saat bayangan kecif kurus itu sampai di depan rumah yang sangat sederhana itu. Lagi-lagi ia menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa. Sejak tadi perasaannya memang tidak enak. Rasanya ada yang mengikuti di belakangnya. Perasaan seperti itu muncul secara tiba-tiba begitu ia melewati jembatan. 

Tiga minggu yang lalu di jembatan itu terjadi kecelakaan. Sebuah truk tua pengangkut pasir terjerumus 'ke: dalam sungai setelah menubruk pilar jembatan. Dalam musibah itu beberapa orang tewas seketika. Seorang anak sekolah yang sedang berjalan tewas seketika karena tubuhnya tergencet pada pi :r jembatan. Percikan darahnya yang sudah mengering masih .mpak jelas menghias pilar beton jembatan itu. Sopir truk yang naas itu tewas tertusuk pecahan kaca. Dua orang lainnya masing-masing kuli pasir . dan kenek truk, tewas di dasar sungai tertindih bangkai mobil tua lu. Satu-satunya orang yang selamat adalah seorang anak kecil, anak sopir yang duduk di samping ayahnya. Ia selamat karena terpental ke luar setclah truk yang dikemudikan ayahnya menubruk anak sekolah di pilar jembatan.

Sejak peristiwa mengerikan itu terjadi, jarang sekali orang lewat berjalan kaki di malam hari. Lebih-lebih setelah. terdengar isu, bahwa pada malam tertentu sering terdengar tangisan anak-anak di jembatan. Barangkali arwah anak sekolah yang tewas berubah jadi hantu.

Kadang-kadang isu dan kabar burung menyakitkan pihak tertentu. Orang tua dari anak sekolah yang tewas di jembatan tentu merasa sangat sedih. Mereka sudah kehilangan anak yang amat disayangi kemudian mendengar isu arwah anaknya menjadi hantu. Kabarnya ibu anak itu sekarang seperti kurang waras.

Bayangan kecil berpayung daun pisang yang tampak di bawah remang cahaya lentera itu ternyata seorang anak laki-laki. la melompat memasuki teras berlantai tanah. Daun pisang yang semula digunakan untuk payung disandarkan pada dinding bilik depan rumahnya. Rambut dan pakaiannya basah kuyup, kecuali bungkusan kecil dalam pelukannya yang ia jaga agar tetap kering. Demi bungkusan kecil itulah ia bersedia basah kuyup dan kedinginan.

la mencuci kedua kakinya yang telanjang dan berlumpur dengan air yang jatuh dari atap ke pelimbahan. Sejenak ta mengibaskan sisa-sisa: percikan air hujan di tubuhnya sebelum menghampiri pintu. Sekali lagi ia menoleh ke belakang, scakanakan memastikan bahwa dirinya tidak diikuti oleh siapa-siapa. Yang tampak di matanya hanyalah rintik air yang turun dari langit.

"Assalamu alaikum!" katanya dengan suara gemetar karena kedinginan. Tubuhnya menggigil. Bibirnya pucat dan biru.

Sesaat kemudian ia menarik pintu geser itu ke samping kiri. Pintu geser itu terbuat dari anyaman bambu yang sisi-sisinya dipakukan pada potongan bambu utuh. Kedua ujung bingkai bambu itu diberi lubang dan dikaitkan padasebatang kayu kecil yang panjang dan lurus. Dengan demikian daun pintu anyaman bambu menggelantung dan dapat digeser ke kiri dan ke kanan.

Lampu minyak di dalam rumah hampir kehilangan cahayanya, redup dan remang-remang. Minyaknya sudah hampir habis.

"Karma! Kaukah itu?" terdengar suara lemah seorang wanita.

"Ya, Bu," jawab anak laki-laki yang baru datang. "Maaf saya agak terlambat, Bu. Saya terpaksa berteduh di dekat pasar, menunggu sampai hujan agak reda." "Beberapa kali adikmu, Maria bertanya. Barangkali ia sekarang sudah tidur." "Saya membawa nasi. Ini obat untuk Ibu," kata Karma sambil menaruh bungkusan kecil dekat ibunya.

"Gantilah dahulu pakaianmu!" Karma tidak segera pergi. Ia berdiri memandangi adiknya, Maria yang sedang tidur. Anak itu tidur dekat ibunya yang sedang sakit.

"Gantilah dahulu pakaianmu!" ulang wanita itu sekali lagi.

"Ya, Bu." Karma tersentak, kemudian pergi berganti pakaian.

Karma mengetahui ibu dan adiknya, Maria belum makan. Oleh karana itu, ia membawakan sebungkus nasi dengan lauk seadanya. Nasi itu diperoleh Karma dari keluarga Bu Siti, tempat Karma bekerja sore tadi. Nasi adalah upah yang diperolehnya hari itu. Sedikit uang yang diterimanya telah dibelikan obat pula untuk ibunya.

Sejak ibunya sakit, Karma terpaksa harus menggantikannya bekerja hanya untuk memperoleh sesuap nasi. Pekerjaan yang dilakukannya ringan-ringan saja. Ia menimba air dari sumur, kemudian menuangkan air itu ke dalam bak mandi. Orang-orang memberinya imbalan alakadarnya berupa uang, beras, atau nasi.

Pekerjaan seperti itu dilakukan Karma pada siang hari sepulang sekolah sampai dengan sore hari. Biasanya ia mengantarkan dahulu adiknya pulang, setelah itu ia pergi bekerja. la menawarkan diri dari rumah ke rumah. la terpaksa melakukan hal itu karena ibunya sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Derita penyakit yang "memaksa ibunya tetap berbaring tidak berdaya.

Kadang-kadang adik Karma ikut bekerja sekadar menemani, tetapi sejak musim hujan tiba, Karma tidak mengizinkan adiknya ikut. Jika Maria ikut, bisa jadi sakit pula karenanya.

Reseki itu tetap ada. Setiap hari ada saja orang yang menaruh belas kasihan, memakai tenaga Karma dan memberinya upah alakadarnya. Dengan demikian setidak-tidaknya Karma berusaha menjaga kesihambungan hidup keluarganya. -

Tidak pernah terpikirkan oleh Karma sampai kapan pekerjaan itu akan dilakukannya. Mungkin sampai ibunya sembuh. Mungkin sampai ayahnya pulang. Mungkin sampai kelak ia menjadi sarjana. Mungkin sampai seumur hidupnya. Tidak ada yang tahu.

Ayah Karma dan Maria, Pak Somantri sudah beberapa bulan tidak pulang, padahal biasanya tidak demikian. Pada waktu-waktu sebelumnya Pak Somantri pulang seminggu sekali setiap hari Sabtu. Sebagai pekerja pencbang kayu di hutan ia mendapat upah mingguan. Pekerjaan itu sudah dilakukannya sebelum Karma dan Maria lahir ke dunia.

Karma tidak mengetahui secara pasti mengapa ayahnya tidak pulang-pulang. la hanya mengetahui, ayahnya terakhir terlibat pertengkaran dengan ibunya, kemudian pergi meninggalkan rumah dalam keadaan masih marah. Tidak jelas pula apa sumber masalahnya. Karma tidak ingin mengetahuinya karena menganggap semua itu adalah urusan orang tua dan anak-anak tidak pantas mencampuri persoalan orang tua. Maria sering menanyakan perihal ayahnya karena ia memangpaling disayangi oleh Pak Somantri. Maria selalu bertanya kepada ibu dan Karma kapan ayahnya pulang. Pertanyaannya hampir tidak pernah terjawab.

Sebenarnya ibu mereka mengetahui alasan ayah mereka tidak kunjung pulang tetapi agaknya wanita itu enggan mengatakan keadaan yang sebenarnya. Pertimbangannya, Karma dan Maria masih terlalu muda untuk menerima penjelasannya.

Karma pernah menanyakan perihal ayahnya kepada ibunya, tetapi ibunya tidak menjawab, kecuali berlinang air mata. Bagi Karma air mata ibunya sudah merupakan suatu jawaban. Kedua orang tuanya sedang dilanda krisis rumah tangga.

Gerimis di luar rumah belum juga berhenti. Nyanyian katak di pekarangan semakin ramai. Perlahan-lahan Karma membangunkan adiknya, kemudian mengambilkan air minum untuk ibunya.

"Kak Karma baru pulang?" tanya Maria dengan mata redup karena mengantuk.

"Aku agak terlambat."

"Hujan lebat sekali ya, Kak."

"Ya," sahut Karma. "Ayo makan dahulu agar kamu tidak masuk angin. Nasi ini kita bagi tiga. Sebagian untuk Ibu."

"Tidak usah," kata ibunya dengan suara parau. “Ibu harus makan," kata Maria penuh perhatian. Ia mengetahui dari guru IPA di sekolahnya, bahwa makhluk hidup perlu makan kalau tidak ingin mati.

"Sudahlah... kalian makan saja berdua," kata ibunya dengan suara para. Matanya yang sayu menatap kedua anak yang sangat disayanginya. “Anak-anak tidak berdosa terpaksa harus turut menanggung beban penderitaan orang tua," bisik hatinya.
Tags:

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)