Berita itulah yang diterima oleh Roefe di Posko Haji Departemen Agama sebagai kabar duka. Setelah salat dia panjatkan doa untuk almarhum ayahnya semoga diterima sebagai haji mabrur. Empat hari kemudian Roefe menanti kedatangan ibunya di ruang tunggu embarkasi Halim Perdanakusuma.
Tiada duka melebihi kepergian ayahnya di negeri yang jauh. Duka ini ditumpahkan Roefe saat merangkul ibunya erat-erat seakan-akan tidak akan melepaskannya lagi. Kata-kata “ayah” berulang-ulang diucapkan Roefe dalam pelukan ibunya. Akan tetapi, keduanya menyadari betapa terbatasnya kemampuan manusia, yaitu sebatas apa yang telah dianugerahkan kepadanya, manusia tidak dapat menentukan sendiri di mana ia harus lahir dan di mana ia harus dikubur. Masalah hidup dan mati adalah lingkup kehendak Allah. Ibu Roefe kemudian berucap, “Ayahmu meninggal di mesjid Nabawi saat usai salat zuhur ... tenanglah, sabariah! Wajah ayahmu sangat jernih saat itu, rasanya belum pernah wajahnya sejernih itu ....” Semoga beliau menjadi penghuni surga. Amin.
TAMAT
