KABAR DUKA - PART 11 TAMAT

lexim
0
Dengan cekatan para petugas membawa Pak Dargo yang tiba-tiba pingsan di dekat Taman Raudhah ke Rumah Sakit King Abdul Aziz untuk dirawat sebagaimana mestinya. Bu Nian segera menyusul ke rumah sakit itu dengan air mata berlinang. Didekatinya sosok tubuh tua yang sudah tidak berdaya itu, sementara para dokter dan perawat sibuk dengan alat masingmasing untuk memberi pertolongan. Tidak lama kemudian dokter dan perawat saling berpandangan dan mengatakan beberapa patah kata dalam bahasa Arab yang tidak dipahami artinya oleh Bu Nian, tetapi memahami maksudnya, yaitu Pak Dargo suaminya wafat. Beberapa tetes air mata Bu Nian mengalir ke pipinya, kemudian diikui oleh tetesan-tetesan lain tanda kesedihan perpisahan untuk selama-lamanya. Selanjutnya setelah segala sesuatu selesai, jasad Pak Dargo dibawa oleh petugas untuk disembahyangkan di Masjid Nabawi.

KABAR DUKA - PART 11 TAMAT

Berita itulah yang diterima oleh Roefe di Posko Haji Departemen Agama sebagai kabar duka. Setelah salat dia panjatkan doa untuk almarhum ayahnya semoga diterima sebagai haji mabrur. Empat hari kemudian Roefe menanti kedatangan ibunya di ruang tunggu embarkasi Halim Perdanakusuma.

Tiada duka melebihi kepergian ayahnya di negeri yang jauh. Duka ini ditumpahkan Roefe saat merangkul ibunya erat-erat seakan-akan tidak akan melepaskannya lagi. Kata-kata “ayah” berulang-ulang diucapkan Roefe dalam pelukan ibunya. Akan tetapi, keduanya menyadari betapa terbatasnya kemampuan manusia, yaitu sebatas apa yang telah dianugerahkan kepadanya, manusia tidak dapat menentukan sendiri di mana ia harus lahir dan di mana ia harus dikubur. Masalah hidup dan mati adalah lingkup kehendak Allah. Ibu Roefe kemudian berucap, “Ayahmu meninggal di mesjid Nabawi saat usai salat zuhur ... tenanglah, sabariah! Wajah ayahmu sangat jernih saat itu, rasanya belum pernah wajahnya sejernih itu ....” Semoga beliau menjadi penghuni surga. Amin. 

TAMAT

Tags:

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)