KE TANAH SUCI - PART 10

lexim
0
Tidak ada satu kebahagiaan pun dalam hidup Pak Dargo menyamai tercapainya kerinduan menunaikan ibadah haji. Keinginan Pak Dargo untuk melaksanakan rukun Islam kelima ini telah lama mengendap dalam rongga dadanya, dalam dada suami istri, Dargo dan Nian. Keduanya sejak lama memanjatkan doa setiap usai salat tahajud yang hampir setiap malam dilakukan. Pak Dargo menyadari benar bahwa cita-citanya itu terlalu mewah sebagai pekerja kasar berpenghasilan rendah. Akan tetapi, naik haji telah demikian menggoda hatinya, laksana tenaga magnetik yang kuat sekali menarik dirinya. Inilah tenaga magnet kedua yang ja rasakan dalam hidupnya setelah magnet cintanya kepada Nian, puluhan tahun yang lalu.

Tidak ada rasanya yang lebih banyak melintas di pelupuk mata hatinya kecuali betapa nikmatnya tawaf mengelilingi Ka'bah yang mulia, berdoa di Multazam, Sa'i antara Safa dan Marwah, mencium Hajar Aswad dan salat di Masjidil Haram serta ziarah ke Makam Rasul di Madinah. Adegan-adegan itu begitu jelas dalam benak Pak Dargo kendati belum pernah ia lakukan. Lebih dari itu, Pak Dargo rela andaikata meninggal di tanah suci. Pak Dargo tidak pernah menceritakan cita-citanya itu kepada orang banyak kecuali kepada Nian, istrinya. Roefe telah lama mengetahui keinginan orang tuanya itu melalui ibunya.

Pak Dargo memang tidak sekadar berdoa, tetapi juga bekerja keras dan telah sedikit menabung di bank, khusus tabungan haji. Akan tetapi, untuk mencapai jumlah yang sebanyak itu, apalagi untuk dua orang, kiranya masih memerlukan waktu yang lama, sampai Suatu ketika Pak Dargo demikian gelisah, yaitu pada saat tubuhnya sering sakit-sakitan karena dimakan usia. Apakah citacitanya itu akan terkabul ataukah tidak? Untuk kekhawatiran itulah Pak Dargo sering bersedih hati.

KE TANAH SUCI - PART 10

Tuhan selalu mendengar doa hambanya yang ikhlas dan Tuhan Maha Menentukan apa yang terbaik bagi hambanya yang taat dan takwa. Kapan doa seseorang dipenuhi, mutlak Allah yang menentukan. Inilah gadha gadar yang wajib diimani oleh seorang mukmin. Kewajiban hamba berikhtiar dan berdoa. Pak Dargo melakukan dua kewajiban itu.

Roefe sudah lama berkhayal, cenderung dikatakan bernazar, andaikata ia dapat menulis novel yang bermutu dan diterbitkan dan honornya dibayar, maka uang itu akan digunakan seluruhnya untuk ONH orang tuanya. Nazarnya itu kiranya dikabulkan oleh Tuhan. Pada suatu ketika setelah salat magrib, Roefe menjumpai ibunya, lalu berkata, “Kiranya Tuhan telah mengabulkan doa Ayah.”

“Apa maksudmu? tanya ibunya.

“Berkat doa Ibu, dua novel saya telah terbit dan honornya telah dibayar. jumlahnya cukup lumayan,” kata Roefe. Ia mengeluarkan dua lembar cek untuk diperlihatkan kepada ibunya. Berulang-ulang Bu Nian mengucapkan “alhamdulillah” manakala melihat angka yang tertera cukup banyak.

“Uang ini seluruhnya untuk tambahan ONH yang masih kurang dan tahun ini Ibu dan Ayah boleh berangkat.”

Segera Bu Nian memanggil suaminya yang sedang . membimbing anak-anak mengaji. Ia menyampaikan berita gembira itu kepada suaminya. Ketiga anggota keluarga itu merasa amat bahagia.

Hari Rabu merupakan hari H saat Pak Dargo dan Bu Nian meninggalkan Halim Perdanakusuma menuju tanah suci sebagai jemaah kloter terakhir. Tidak ada keterharuan dialami Pak Dargo selama hidupnya melebihi rasa haru tatkala ia tawaf mengitari Ka'bah, mencium Hajar Aswad, berdoa di Multazam dan Sa'i antara Safa dan Marwah. Pengalafnan religiusnya demikian mengesan merasuk jiwanya. Berbagai doa telah dipanjatkan ke hadirat Allah oleh Pak Dargo, terutama mengenai keampunan dosanya pada masa muda. Dia telah banyak membunuh pada masa bergerilya kendati yang dibunuh itu musuh bangsanya.

Setelah seluruh manasik haji dilakukan dengan sempurna, Pak Dargo bersama jemaah lain berangkat ke Madinah untuk melaksanakan ibadah sunat lain, antara lain salat empat puluh waktu berturut-turut di masjid Nabawi yang disebut salat Arbain.

Rasanya tidak ada gangguan kesehatan dialami oleh Pak Dargo. Biasa-biasa saja, tidak ada firasat apa pun tentang takdir yang akan dialami. Hari itu adalah hari kedelapan Pak Dargo berada di Madinah.

Setelah salat Zuhur Pak Dargo merasa pusing yang sangat. Pilar-pilar merah dengan pelengkungan masjid Nabawi yang indah terlihat berputar-putar di mata Pak Dargo, lalu matanya dipejamkan untuk mengurangi rasa pusingnya itu. Akan tetapi, tidak lama kemudian di antara sadar dan tidak mata Pak Dargo memandang suatu kekosongan yang mahaluas dan perasaan nikmat yang tiada tara. Dua orang yang tidak dikenal oleh Pak Dargo mengajaknya pergi ke tempat yang jauh. Pak Dargo mengikutinya dengan senang hati setelah pamit kepada Nian, istrinya. Dalam pandangan itu Bu Nian dengan wajah yang berseri dan dengan senyuman melepas kepergian suaminya mengikuti pembimbingnya dua orang yang sangat berwibawa itu.
Tags:

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)