SOPIR BEMO - PART 9

lexim
0
Pukul 15.00 dari pintu rumah Pak Dargo yang sejak pags terbuka terus, terdengar suara salam “Assalamualaikum”.

“Waalaikumsalam,” serentak suara Pak Dargo dan Bu Nian menjawab salam.

Burhan Kunyit muncul di pintu siap melangkah ke ruang tamu saat dipersilakan masuk yang serentak pula diucapkan oleh sahibul bait Dargo dan Nian.

Gagah sekali Burhan dalam pakaian kemeja putih dan celana cokelat muda. Tangannya menjinjing sebuah tas kecil berwarna cokelat tua. Segar bugar kendati ia sudah memasuki usia senja. Rambutnya yang sebagian sudah memutih disisir rapi sesuai peraturan militer yang berlaku.

Mereka bersalaman hangat sekali. Bu Nian setelah bersalaman segera merapikan meja kursi di ruang tamu dan ruang makan. Roefe yang sedang sibuk tulis-menulis dipanggil oleh ibunya ke ruang tamu. Burhan Kunyit mengusap-ngusap kepala anak itu penuh kasih sayang.

“Kelas berapa sekarang?"

“Kelas tiga SMP, Om."

“Kamu ingin jadi apa kalau sudah tamat sekolah nanti?” “Ingin jadi pengarang, Om?"

“Tidak ingin jadi tentara?"

“Ingin jadi pengarang saja, Om."

“Mudah-mudahan tercapai cita-citamu."

Begitulah pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban ringan antara Burhan Kunyit dan Roefe, putra Pak Dargo setelah meja makan ditata rapi oleh Bu Nian, Pak Dargo mempersilakan tamunya untuk makan siang. Setelah duduk sejenak, Pak Dargo berkata, “Mari, segala-galanya ala kadar telah disiapkan oleh Nian. Walaupun Nian sudah ubanan, tetapi masakannya masih lumayan.” Pak Dargo bercanda.

“Seperti masih muda saja si Abang.” Bu Nian membalas.

“Sama saja Dik Nian, kita sama-sama sudah berusia lanjut. Lima tahun lagi saya akan pensiun.” Burhan menengahi canda kedua sahabatnya.

“Tetapi Abang Dargo ini loyo, namanya saja tukang becak." Bu Nian menyerang kembali.” Pak Burhan ini repot-repot kemarin, kirim uang segala.”

“Ah tidak repot, Dik Nian. Lima belas tahun kita berpisah dan ketemu tidak sengaja.” “Ya, namanya pertemuan, rezeki, jodoh bukan kita yang menentukan.” “Benar Dik ... itu semua kehendak Tuhan.”

Sambil diselingi bicara-bicara ringan empat orang yang mengelilingi meja makan itu telah menghabisi dua pertiga hidangan yang disuguhkan Bu Nian. Kemudian Burhan menyela lagi, “Apakah Dik Nian ikut kursus tata boga?”

“Mengapa bertanya begitu?” Bu Nian balik bertanya.

“Masakanmu enak sekali,” puji Burhan. Ketiganya samasama tertawa gembira.

“Bukan masakannya yang enak, tetapi situasi pertemuan ini yang membuat apa saja yang dimakan terasa enak,” jawab Nian diplomatis. “Semuanyalah,” potong Burhan. “Enak tidak enak ada dalam hati,” begitu Burhan berfilsafat.

SOPIR BEMO - PART 9

 Mereka bertiga saling mengisi, sambung-menyambung, bicara sampai selesai acara makan siang yang memang sudah terlambat. Burhan mengeluarkan rokok kegemarannya dan menawarkan kepada Pak Dargo. Pak Dargo menolak dengan jawaban, “Saya sudah lama tidak merokok, kira-kira sepuluh tahun ... merokok tidak baik bagi kesehatan, bukan?"

"Benar," jawab Burhan. "Saya juga mulai mengurangi. Insya Allah pulang dari sini saya akan berhenti merokok sama sekali.”

Setelah istirahat beberapa saat, mereka hendak salat asar di ruang khusus yang ditata rapi. Di atas ubin terbentang karpet berwarna hijau, di sisi kiri dan kanan ada rak. Di dalam rak itu tersusun sejumlah Ouran dan beberapa di antaranya edisi luks. Yang terbanyak adalah Juz Ama. Ada pula sebuah papan tulis warna putih. Situasi itu memberi kesan bahwa pada malam hari anak-anak tetangga belajar mengaji di ruangan itu.

Burhan memperhatikan ruangan itu dengan rasa kagum. Serta-merta hatinya berkata, “Mengapa di rumahku yang jauh lebih bagus tidak ada ruang salat seperti ini?” Pikiran itu disimpan di sudut bawah rongga hatinya untuk dicatat dan ini patut dicontoh.

Setelah salat, Burhan tidak sengaja meneteskan tiga butir air mata. Segera ujung tangan bajunya dirapatkan ke matanya agar buliran air tidak terus mengalir dan tidak dilihat oleh Pak Dargo. Ditahannya perasaan haru dengan mengeras-ngeraskan bacaan istigfar beberapa kali.

Burhan Kunyit kembali lagi ke ruang tamu. Ia melihat Roefe sedang membaca buku cerita dengan asyik.

“Kamu sedang baca apa, Reofe?”"

“Buku cerita, Om.”

“Sudah salat?”

“Belum, Om.” Roefe bangun menuju ruang salat.

Menjelang pamitan Burhan memanggil Pak Dargo. Bu Nian juga menyusul untuk mengucapkan terima kasih atas kunjungannya. Mereka bertiga duduk kembali ke kursi tamu. Burhan membuka tas kecil yang sejak tadi ditaruh saja di atas meja. Dari dalam tas itu dikeluarkan sebuah buku kecil lapiknya berwarna merah dan selembar lagi berbentuk persegi panjang berwarna putih Kedua dokumen itu dijadikan satu kemudian diserahkan kepada Pak Dargo.

“Apa ini?'

“Terima saja, Pak Dargol Ini dari aku sebagai teman seperjuangan di hutan rimba belantara. Terimalah! Burhan menyerahkan benda yang belum dipahami oleh sahabatnya.

"Ya... tetapi surat apa ini dan apa maksudnya?"

Pak Dargo menduga bahwa dokumen itu SK sebagai veteran dan iya akan mempeoleh santunan tiap bulan Pak Dargo rasanya tidak berminat terhadap SK sepert itu Dia merasa bahagia andai kata Tuhan sajalah yang meng tahui jasa jasanya dalam revolusi

Burhan menjelaskan lebih lanjut “Yang merah ini adalah BPKB dan yang panjang ini adalah dokumen sebuah bemo. Bemo itu saya beli kemarin soreh, kondisinya 80% masih baik. Pak Darho tinggal mengurus SIM ke Komdak dan mendaftar ke trayek yang di kehendaki. Bemo itu ada di depan".

Hampir lima menit Pak Dargo dan Bu Nian tidak dapat berkata apa-apa, keduanya keheranan, serta merta Bu Nian lebih dahulu merapatkan ujung selendangnya ke kedua matanya untuk menekan air mata yang hendak mengalir keluar. Pak Dargo mengedip-ngedipkan kelopak matanya, juga untuk maksud yang sama, karena matanya juga sudah berkaca-kaca.

Pukul 17.00 ketiga sahabat itu berpisah. Sejak 17 Agustus itulah Pak Dargo mulai berlatih sebagai pengemudi bemo. Pada pintu depan bemo itu ditulis tiga kata bentuk inisial ciptaan Roefe. Inisial itu berbunyi 17 Agustus 1945.
Tags:

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)