PINDAH RUMAH - PART 8

lexim
0
Tidak banyak wanita yang lama bertahan menutupi isi hatinya, sementara di tengah keluarganya ada wanita lain yang lebih cantik dan lebih muda daripada dirinya. Sikap ini tidak terkecuali tampak pada wajah Bu Saman. Situasi ini dibaca jelas oleh Nian. Oleh karena itu, ia sering bersedih hati, tetapi ia masih menunggu waktu yang baik untuk mengemukakan gagasan dan jalan keluar kepada suaminya, Dargo. Pernah suatu ketika anak ayam masuk ke dalam rumah, anak ayam itu dicaci maki oleh Bu Saman habishabisan. Tidak sampai di situ saja, malah ditendang. Anak ayam jadi sasaran emosi Bu Saman. Peristiwa itu disaksikan oleh Nian dan Nian mempunyai tafsiran sendiri. Nian masih dapat menahan diri dan tidak pernah mengatakan sesuatu kepada Dargo sehingga pada suatu ketika ia berkata.

“Begini Bang ... Kita cari saja rumah lain. Bu Saman perlu menampung tamu-tamunya yang lain. Kita tidak boleh lama-lama bertamu di sini . .. dan kita juga perlu keterangan, anak kita tidak lama lagi akan lahir,” begitu gagasan Nian.

“Bagus juga pikiranmu Nian, tetapi barangkali uang kita belum Cukup.”

Selanjutnya atas usaha dan bantuan Saman Birah, Dargo membeli sebidang tanah berukuran 10 m x 15 m dengan sebuah gubuk di atasnya. Harganya cukup terjangkau walaupun Sebagian perhiasan Nian terjual. Setelah diperbaiki di sana sini, gubuk layak untuk ditempat.

Kini Dargo dan keluarga telah menjadi penduduk DKI dengan pekerjaan tetap sebagai pekerja kasar, sebagai tukang kayu ataupun kuli bangunan. Dirasa betul betapa nikmatnya memiliki rumah sendiri dan betapa bahagianya hidup tenang di rumah yang tidak begitu jauh dari masjid. Tiap waktu salat dapat mendengar alunan suara azan memanggil manusia untuk sujud kepada Tuhan Maha Pencipta.

Bahagia demi bahagia tercurah kepada keluarga Dargo terutama yang tidak dapat dinilai dengan uang atau materi apa pun, yaitu menanti kelahiran anak mareka yang pertama di mana Dargo hendak memberi nama Muhammad Roefe. Doa demi doa dipanjatkan ke hadirat Tuhan tiap selesai mengerjakan salat lima waktu, yakni untuk keselamatan kelahiran putra idaman.

Alhamdulillah. Putra idaman keluarga Dargo lahir dengan selamat tanpa mengalami kesulitan. Doa mereka dikabulkan Tuhan. “Berdoalah kepada-Ku niscaya Kuterima doamu," begitu firman Tuhan dalam kitab suci.

Bahagia Pak Dargo bertambah-tambah tatkala suster Rumah Sakit Petamburan mengatakan bayinya laki-laki. “Akan kuberi nama Muhammad Roefe”. Dengan lahirnya seorang putra, lengkaplah sudah keluarga Dargo sebagai keluarga kecil, suami istri dengan seorang anak, hidup sederhana dengan penghasilan pas-pasan, hasil keringat dengan kerja banting tulang dinikmati penuh syukur.

Pekerjaan kasar Pak Dargo bersifat musiman, artinya kerjanya berpindah-pindah, musim pembangunan rumah dia sebagai tukang kayu atau tukang batu atau tukang aduk-aduk. Pernah juga sebagai pekerja jalan raya, tukang aduk aspal. Banyak sekali pengalaman kerja Dargo yang umurnya sekarang menjelang kepala lima, artinya mendekati lima puluh tahun. Karena pekerja kasar, wajahnya terlihat lebih tua daripada usianya.

Pernah pula Pak Dargo bekerja sebagai penarik becak dan dia perlu mengatur sendiri jam kerjanya, artinya kalau ia kurang sehat ia tidak kerja atau menarik pada waktu malam atau kapan ia suka. Jadi, tidak terikat, apalagi becak itu milik sendiri. Waktu itu Roefe kecil sudah menduduki kelas empat SD. Dia merasa bangga kepada teman-temannya karena ayahnya punya becak.

Kalau sore hari, saat ayahnya tidak menarik, ia genjot-genjot becak itu, kadang-kadang ia bunyikan mulutnya seperti bunyi mobil. Ia berkhayal sedang menyetir mobil.

Empat tahun lebih Pak Dargo jadi pengemudi becak. Dalam periode itulah terjadi peristiwa aneh yang tidak patut dibuang dalam cerita ini yang menyebabkan selanjutnya Pak Dargo menjadi sopir bemo, yakni mengangkut penumpang dengan menggunakan kendaraan bemo. Meningkat bukan? Apa gerangan peristiwa aneh itu?

Waktu itu tanggal 16 Agustus. Ingat betul Pak Dargo. Mungkin pukul berapa pun ia tidak lupa. Pak Dargo seperti biasa mangkal dengan becaknya di suatu perempatan jalan, yang oleh tukangtukang becak dinamakan simpang Rodatiga. Besok pada tanggal 17 Agustus rencana Pak Dargo akan istirahat, artinya ingin mengikuti acara Peringatan Hari Kemerdekaan yang akan ditayangkan melalui TVRI. Tentu tetangga malah anaknya pun tidak tahu mengapa Pak Dargo brminat sekali menonton tayangan itu.

 

Kembali kepada peristiwa aneh. Saat Pak Dargo mangkal di simpang Rodatiga, seseorang berpakaian seragam menepuk bahunya dengan sangat tiba-tiba. Pak Dargo kaget bukan kepalang dan rasa kaget itu serta merta menular ke tukang-tukang becak lain karena mengira seorang oknum menangkap Pak Dargo, minimum melarang mangkal di situ. Mereka kasak-kusuk, untuk beberapa saat tenang kembali. Perhatian mereka tertuju kepada Pak Dargo dan orang berpakaian seragam itu.

“Dargo ...“Nama Pak dargo dipanggil dengan suara amat keras”... Dargo, kamu ada di sini?”

“Burhan, Burhan ... Mengapa kita bertemu lagi di sini?”

“Masing-masing dua sahabat itu saling bertanya dan saling tidak memerlukan jawaban. Pak Dargo memarkirkan becaknya di tempat: yang aman dan kcduanya masuk ke dalam restoran yang tidak begitu jauh dari pangkalan becak itu. Mereka pesan makanan dan minuman.

Satu jam lebih mereka saling bertukar pengalaman selama berpisah. Amat terharu Burhan Kunyit mendengar perjalanan hidup temannya, Abdullah Dargo. Pak Dargo menjelaskan juga keadaan istrinya, Nian dan anaknya, Roefe yang sekarang akan naik ke kelas 3 SMP. Sebaliknya Pak Dargo kagum pula pada karir militer Burhan yang sekarang menjabat sebagai Komandan Kodim di suatu wilayah dan sekarang mengikuti semacam penataran di Jakarta. Diketahui pula bahwa lima tahun lagi ia akan memasuki masa pensiun.

Setelah puas melepas rindu antara dua sahabat, Burhan mencatat alamat Pak Dargo secara lengkap dan dia berjanji besok tanggal 17 akan datang ke rumah. Beberapa lembaran uang kertas dari dalam kantong seragam Burhan pindah ke saku baju Dargo.

“Mengapa banyak-banyak, Burhan?” kata Pak Dargo menerima.

“Tidak banyak, seadanya saja... terimalah, kita akan bertemu besok, saya akan datang,” kata Burhan Kunyit.

Beberapa langkah setelah berpisah, Burhan mengeluarkan air mata. la mengeluarkan saputangan dari saku celana, lalu melap air mata kesedihan itu, kemudian naik taksi menuju asrama. Dia melepaskan pakaian seragam dan segera keluar lagi untuk mencari sesautu.

“Aneh-aneh dalam hidup ini,” kata hati Pak Dargo. la mengambil kembali becak dari tempat parkir dan segera pulang ke rumah.

“Kok cepat pulang Bang... katanya mau narik sampai sore,” begitu tegur Nian saat melihat suaminya tiba-tiba muncul, padahal hari masih siang.

Pak Dargo diam saja, tidak menanggapi sapaan Nian, tetapi wajahnya berseri-seri. Ada sesuatu kegembiraan sedang dinikmati sendiri dan sebentar lagi akan dibagi kepada Nian, istrinya.

“Senyum-senyum, Bang? Mengangkut janda, ya?” Nian meledek karena teguran pertama tidak dipedulikan.

Pak Dargo tetap senyum-senyum sendiri, sementara Nian tambah heran. Selanjutnya Pak Dargo memasukkan tangannya ke saku celana, lalu mengeluarkan lagi tangan itu dengan segenggam buntalan uang kertas cukup banyak. la memberikan uang itu kepada Nian.

Terbelaliak mata Nian melihat uang sebanyak itu dan ia berucap, “Banyak sekali, Bang? Dari mana ini? Menemukan di jalan, ya?” .

Dargo tetap tenang sementara Nian makin keheranan. Setelah minum segelas air putih Pak Dargo duduk di sisi Nian, selanjutnya menceritakan pertemuannya dengan Burhan Kunyit yang bersama Nian menjemput Dargo di kebun karet liam belas tahun yang lalu. Dicentakan semua apa yang didengar dan Burhan. Selanjutnya ia mengatakan Burhan besok akan datang bertamu ke rumahnya. .

“Siap-siaplah kita sambut dia sebaik-baiknya. Pakailah uang Ini untuk membeli apa yang diperlukan. Besok tepat tanggal 17 Agustus kita tunggu dia datang sambil menonton televisi.”

“Seperti anak kecil saja menonton televisi."

“Menonton upacara HUT, maksud saya," jelas Pak Dargo.

Tags:

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)