Pertemuan kedua sahabat itu cukup mengharukan, terutama Saman Birah, karena melihat bekas teman seperjuangan yang dahulu gagah perkasa kini sebagai penyandang cacat, jalannya pincang. Terlebih terharu manakala melihat Nian yang cantik jelita masih mau mendampingi Dargo sebagai suami. Seperti tidak jemu-jemunya Saman Birah mencuri pandang ke wajah Nian. Lama mereka berbincang di rumah Dargo dan beberapa kali harihari berikutnya Saman Birah bertamu dengan acara serupa, yaitu melepas rindu termasuk mencuri pandang juga.
Abdullah Dargo memang kurang minat menetap di desa, jiwa merantaunya masih membara di dalam dada. Percakapan dengan Saman Birah tentang banyak hal yang dapat dikerjakan di Jakarta, Cukup menarik dan menggoda hati Dargo. Katanya asal ada kemauan, ada tenaga, dan sedikit keterampilan nasib. Untuk itu Dargo menimbang-nimbang, sepertinya syarat mengubah nasib di Jakarta cukup memadai:
1. Kemauan tidak perlu diragukan,
2. Tenaga cukup prima (usia menjelang 40 tahun),
3. Keterampilan? Dargo sudah terlatih sebagai tukang kayu.
4. Baca tulis, hitung menghitung sudah belajar ala kadarnya waktu di markas.
Rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tinggal membuat kesepakatan dengan Nian, istrinya. Nian agak lama mereka-reka untung ruginya merantau ke Jakarta. Pertimbangan Nian cukup beralasan:
1. Dargo dengan kondisi tubuh seperti itu lebih pantas tinggal di desa daripada di kota besar. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan untuk sukses asal ulet bekerja.
2. Dirinya memang berwajah cantik, ia akui dalam hatinya bahwa ia lebih cocok sebagai istri Dargo sebelum cacat. Akan tetapi, ia memiliki iman yang kuat dan pendirian yang kukuh. Terlebih cintanya kepada Dargo tidak pernah pudar.
3. Modal kerja apa yang akan dibawa. Rasanya tiap usaha perlu modal. Penawaran jasa baik sahabatnya, Saman Birah perlu dikaji lebih lanjut Seberapa besar dapat membantu Dargo untuk berusaha di tempat yang baru. Apakah istri Saman Birah akan setuju dengan niat baik suaminya itu. Nian masih memiliki tiga ratus gram perhiasan warisan almarhumah ibunya. Perhiasan ini dapat dijual jika diperlukan.
Rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tinggal membuat kesepakatan dengan Nian, istrinya. Nian agak lama mereka-reka untung ruginya merantau ke Jakarta. Pertimbangan Nian cukup beralasan:
1. Dargo dengan kondisi tubuh seperti itu lebih pantas tinggal di desa daripada di kota besar. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan untuk sukses asal ulet bekerja.
2. Dirinya memang berwajah cantik, ia akui dalam hatinya bahwa ia lebih cocok sebagai istri Dargo sebelum cacat. Akan tetapi, ia memiliki iman yang kuat dan pendirian yang kukuh. Terlebih cintanya kepada Dargo tidak pernah pudar.
3. Modal kerja apa yang akan dibawa. Rasanya tiap usaha perlu modal. Penawaran jasa baik sahabatnya, Saman Birah perlu dikaji lebih lanjut Seberapa besar dapat membantu Dargo untuk berusaha di tempat yang baru. Apakah istri Saman Birah akan setuju dengan niat baik suaminya itu. Nian masih memiliki tiga ratus gram perhiasan warisan almarhumah ibunya. Perhiasan ini dapat dijual jika diperlukan.
4. Yang terakhir tentang keikhlasan Saman Birah. Apakah penawarannya itu tidak bercampur dengan pikiran-pikiran kotor. Nian memang merasakan melalui indera keenamnya tentang lirikan mata Saman Birah ke wajahnya saat-saat bertamu. Inilah yang membuat ia lama memberi keputusan setuju kepada suaminya, Dargo.
“Bagaimana pikiranmu, Nian?” begitu Dargo minta pertimbangan terakhir istrinya. “Mudah-mudahan Tuhan akan memberkati niat baik kita untuk memperbaiki nasib.”
“Aku setuju Bang... Aku akan mendampingimu kemana pun.”
“Benar Nian? Ke mana pun?"
“Ya...ke mana pun... kecuali ke neraka.”
“Tentu .. , saya juga tidak mau masuk neraka."
“Kita sama-sama tidak mau masuk neraka.” .
Senyap seketika. Musyawarah untuk mufakat telah mereka sepakati. Mereka akan ke Jakarta untuk mengubah nasib.
“Ada sesuatu yang akan kusampaikan Bang.”
“Apa lagi Nian? Bukankah kita sudah sepakat?
“Bukan itu, Bang.”
" “Jadi, apa?"
“Aku hamil, Bang.”
“Alhamdulillah!” Meledak suara hamdalah ke luar dari mulut Dargo. la mendekati Nian dan menciumnya dengan kasih sayang, selanjutnya ia berwudu, salat sunat dan sujud syukur. Dargo tidak dapat membayangkan kalau akhirnya Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menganugerahkan juga kepadanya keturunan.
Jika anakku laki-laki, akan kuberi nama MUHAMMAD REOFE,” begitu Dargo berkata dalam hati. Apa arti Roefe kurang jelas' mungkin sejenis pohon dalam hutan di mana Dargo tersangkut ketika ditembak Belanda.
Tiga bulan berikutnya, setelah selamatan ata kadarnya, berangkatlah Dargo dan Nian ke Jakarta menuju alamat yang diberikan Saman Birah. Sesampainya di Tanjung Periuk, mereka telah ditunggu oleh Saman Birah dan dengan mobil Cevrolet model tahun 1957 dibawa ke rumah dan ditampung sebagai tamu.
Ada empat bulan Dargo dan Nian tinggal di rumah keluarga Saman Birah. Cukup lama dirasa oleh Nian. Tenggang rasa dan basa basi terus-menerus dijaga, sementara Dargo dan Saman Birah sedang merancang pekerjaan yang cocok bagi dargo. Sekadar menghindari kesepian, dargo membantu aduk-aduk pasir di pabrik batako.
