TAMU ITU MENCARI DARGO - PART 6

lexim
0
Pertemuan Dargo dengan Burhan Kunyit di kebun karet saat berburu rusa, membuat babak baru dalam kehidupan Dargo. Belum dua minggu berselang, tiba-tiba Dargo tersentak oleh panggilan mandor. Pak Mandor mengabarkan ada tamu mencari dirinya. Mereka memakai Jip Wilis berwarna hijau tua. Segera Dargo menyongsong sang tamunya. Alangkah terkejut ketika ia melihat kedua orang itu. la mengusap kedua matanya untuk meyakinkan penglihatannya. Tidak salah lagi ... Burhan Kunyit ... dan wanita di sebelahnya tidak lain adalah Nian.

Dargo kembali meyakinkan dirinya bahwa ia tidak bermimpi. “Aku tidak bermimpi . . . di depanku adalah Nian dan Burhan temanku ... kiranya doaku terkabul ...dia kawin dengan Burhan." Beberapa kali ia membaca Alhamdulillah di dalam hati. Waktu itu Dargo berhenti lebih kurang tujuh meter jaraknya dari hadapan kedua tamunya. Pohon karet yang ada di sekitarnya terlihat berputar perlahan-lahan, makin lama makin cepat putaran itu. Dargo menyadari bahwa ia pusing. la merapatkan badannya pada pohon karet di dekatnya agar jangan sampai terjatuh. Ia memejamkan matanya beberapa saat untuk mengurangi rasa pusingnya. 

Tatkala ia membuka mata itu kembali, bola matanya merah seperti saga. Sepintas lalu ia melihat Burhan seperti serigala yang galak, seperti setan durjana, lebih jahat daripada Belanda yang dimusuhinya. Emosi Dargo makin memuncak tidak terkendali lagi. la mengeluarkan golok yang terselip di pinggang, lalu menyerang serigala di depannya itu. Pergumulan sengit terjadi. Dargo menyerang berulang-ulang dan Burhan berusaha mengelak mempertahakan nyawa, diserang lagi penuh marah. Akhirnya sebuah serangan jitu golok Dargo mengenai sasaran pada bagian perut musuhnya. Burhan jatuh tersungkur tergeletak dengan cucuran darah membasahi rerumputan.

Puas hati Dargo dapat mengalahkan musuhnya hanya dalam waktu singkat. Dargo telah membunuh musuhnya sekaligus teman yang paling akrab dengannya pada masa bergerilya. Tiba-tiba rasa penyesalan meliputi dirinya. Setelah Dargo menyadari dan setelah pohon-pohon karet di sekitarnya berhenti berputar-putar, ia beristigfar. “Astagfirullah”, berulang-ulang ia ucapkan istigfar itu sehingga ia yakin betul bahwa ia telah membunuh Burhan,” hanya dalam khayalan. Untuk itu ia berulang-ulang juga membaca “Alhamdulillah, aku tidak membunuh Burhan.”

Hati Dargo mengatakan, “betapa butanya cinta itu dan betapa sengsaranya ia menderita karena cinta, bertahun-tahun cinta itu telah mendera dirinya. Karena cinta itu pulalah dia telah menjadi pembunuh teman sendiri walau hanya dalam khayalan.” Tatkala kesadaran Dargo telah pulih, dia melihat Nian berada di sisinya dan Burhan telah masuk ke dalam rumah mandor. Kiranya Burhan memberi kesempatan sepenuhnya kepada Nian dan dargo untuk melepas rindu. Keduanya duduk di atas bangku panjang di sisi halaman rumah mandor. Segera Nian membuka pembicaraan.

“Abang selamat... mengapa Abang tidak pulang ke desa, di mana janji setia Abang yang pernah Abang ucapkan ... Aku selalu menunggu Abang.” Begitu berondongan pertanyaan- pertanyaan Nian kepada Dargo yang duduk tenang seperti patung pahlawan yang dipajang di taman kota, tenang seperti tidak bernapas layaknya. 

Lama Dargo membiarkan pertanyaan Nian itu. Sesungguhnya ia sedang menikmati betapa segarnya siraman kata-kata Nian yang tidak diduga itu. ' Selanjutnya Dargo balik bertanya, “Apakah engkau belum kawin?” ... Bukankah Burhan itu suamimu? Bukankah engkau datang hanya untuk minta maaf kepadaku?” Sisa-sisa emosi masih membuat kalimat-kalimatnya sumbang.

Mengapa Abang berkata begitu? Abang Burhan hanyalah menolong mengantar aku kemari setelah mengetahui Abang ada di sini . . . aku kemari mencari Abang."

Kembali salju menyiram sisa bara emosi Dargo dan serta merta dia merasa bahagia yang tiada tara dan hatinya berkata, “Alangkah bahagianya orang bercinta.” Akan tetapi, kembali Dargo menyadari dirinya dan kembali berucap, “Aku sudah cacat Nian... (terdiam beberapa saat) ... engkau terlalu cantik untuk bersuamikan aku ... tinggalkan aku di sini, kembalilah ke desa dan pilihlah calon suami yang lebih pantas.”



Ucapan-ucapan itu begitu berat ke luar dari dalam mulut Dargo, tetapi begitu tegas masuk ke dalam telinga Nian seperti sambaransambaran petir menyambar kepala Nian. Kepala Nian terkulai dan beberapa butir air mata berderai membasahi pipinya. Segera ujung selendang dirapatkan ke matanya.

“Apa pun yang terjadi pada diri Abang, hanya matilah yang akan memisahkan kita .... bukankah janji itu telah sama-sama kita ucapkan saat Abang akan berangkat dahulu? ... Mengapa begitu cepat Abang melupakannya?”

Kembali Dargo tidak dapat segera mengucapkan apa-apa dan kembali pula ia meyakinkan dirinya apakah ini bukan suatu halusinasi karena tidak mampu melupakan Nian.

“Alangkah mulia hatimu Nian ... tetapi ketahuilah aku ini sudah cacat, masa depanku amat suram dan aku sangat khawatir, sekeping bahagia pun tidak dapat kuberikan kepadamu apabila engkau bersuamikan aku.” Beberapa saat keduanya terdiam.

“Aku ini sudah tidak seperti engkau kagumi dahulu, aku sadar betul akan Kekuranganku dan aku tidak dapat bekerja di kantor manapun untuk memperoleh gaji yang pantas karena tidak akan ada seorang kepala kantor pun yang bersedia menerima aku sebagai pegawainya dengan kondisiku seperti ini . . Pertimbangkanlah semua itu Nian. Jika engkau menuruti juga kata hatimu yang mulia itu, engkau tidak akan lebih dari istri seorang pekerja kasar atau lebih rendah daripada itu,” begitu Dargo mengingatkan Nian. Untuk itu Nian kembali merapatkan ujung selendangnya ke kedua matanya.

“Jangan berkata begitu Bang... apa pun yang akan terjadi Tuhan telah menggariskan aku ini akan menjadi istri Abang."

Hening beberapa saat, hanya suara desiran angin mengusik daun karet serta suara burung-burung dan binatang rimba saling bersahutan, sementara jam menunjukkan pukul 16.00 dan sementara itu Burhan Kunyit selesai berbincang dengan mandor perkebunan.

Ada satu jam dargo dan Nian terlibat dalam emosi dan rasa, dalam bahagia dan duka, seakan-akan sudah habis yang akan mereka katakan. Akhirnya mereka bertiga bersalaman dengan mandor untuk berpamitan dan selanjutnya mereka menaiki Jip Willis yang disetir oleh Kopral Burhan Kunyit.

“Assalamualaikum, sampai berjumpa kembali,” Burhan mengucapkan salam perpisahan kepada mandor, seterusnya Jip Willis itu hilang dari pandangan mandor di sela-sela pohon karet dengan perasaan sedih karena kehilangan seorang kulinya yang baik hati.

Dalam perjalanan, ketiga sahabat itu lebih banyak berdiam diri dengan pikiran masing-masing, hanya Burhan yang sering mengoceh sendiri seakan-akan untuk menghidupkan suasana perjalanan mereka menuju desa Dargo.

TAMU ITU MENCARI DARGO - PART 6

Burhan Kunyit merasa bahagia karena telah berbuat sesuatu kepada temannya, Dargo, teman seperjuangan sebagai perwujudan setia kawan. Selanjutnya Burhan berusaha mengumpulkan sumbangan dari teman-temannya sepasukan dalam rangka membantu Dargo sebagai modal kembali ke masyarakat, terlebih tatkala mereka mengetahui Dargo dan Nian telah menentukan hari pernikahan mereka.

Dari mulut ke mulut keluar ucapan-ucapan kagum akan kesetiaan Nian. “Tidak banyak wanita seperti Nian. Itulah yang namanya cinta sejati. Kalau jodoh tidak ke mana. Semua itu kehendak Yang Maha Kuasa."

Begitu hangat kawan-kawan Dargo membicarakan calon pengantin itu, bekas anggota pasukan mereka yang pernah mereka kagumi kegagahannya, keberaniannya, kejujuran, kesetiaan, dan banyak sifat kesempurnaan lainnya. Pada hari perkawinan Dargo, semua teman sepasukan hadir kecuali Burhan Kunyit karena dipanggil komandan.
Tags:

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)