Pekerjaan menderes karet cukup menyenangkan bagi Dargo karena ia membutuhkan kesepian. Ia mengira di tempat yang sepi akan lebih mudah melupakan Nian. Dia lupa bahwa makin sepi makin gencar ingatan-ingatan seperti itu menyerang dirinya. Walaupun begitu di tempat yang baru itu semenitara ini ia merasa agak tenteram Di kebun karet itu hanya ada seorang mandor dan sepuluh orang buruh, sebelas dengan dargo. Pada malam hari mereka dapat berkumpul di emperan gubuk mandor. Mereka bercakap-cakap saling bertukar pengalaman hidup masingmasing. Ada seorang penderes yang nasibnya mirip nasib Dargo, Rahim Rimba namanya. la kehilangan tiga jari kirinya diterjang peluru senapan mesin serdadu Belanda. la mengundurkan din bukan karena seleksi, tetapi karena takut mati saja, lalu melarikan diri dari pasukannya dan bekerja sebagai kuli perkebunan.
Dargo merasa terhibur dengan cerita kawan-kawan barunya, kendati ia belum pernah sedikitpun membuka riwayat dirinya sendiri. Kalau ditanya mengapa ia pincang, ia tidak menjelaskan hal yang sebenarnya. Tidak terasa satu tahun sudah Dargo menjalani profesi sebagai penderes pohon karet, setahun pula ia sesungguhnya tidak dapat melupakan Nian, hanya kadangkadang dapat mengusir ingatan itu dan betapa nikmatnya hidup ini tanpa cinta yang mendera hati.
Dargo merasa terhibur dengan cerita kawan-kawan barunya, kendati ia belum pernah sedikitpun membuka riwayat dirinya sendiri. Kalau ditanya mengapa ia pincang, ia tidak menjelaskan hal yang sebenarnya. Tidak terasa satu tahun sudah Dargo menjalani profesi sebagai penderes pohon karet, setahun pula ia sesungguhnya tidak dapat melupakan Nian, hanya kadangkadang dapat mengusir ingatan itu dan betapa nikmatnya hidup ini tanpa cinta yang mendera hati.
Sekali waktu Dargo bertemu dengan temannya, Burhan Kunyit, yaitu saat Burhan berburu rusa. Keduanya saling bersalaman dan saling bertukar pengalaman selama berpisah. Beberapa lembar uang kertas yang ada dalam kantong Burhan Kunyit pindah ke saku Dargo, begitu juga sebuah jam tangan Titus pindah ke pergelangan tangan kiri Dargo. Semua itu sebagai kenangan dari Burhan selaku teman sepasukan yang nasibnya lebih beruntung. Burhan memang beberapa kali mengusap matanya karena terharu dan sedikit banyak ia tahu tentang dargo sebetulnya ingin melupakan Nian.
Di antara kuli-kuli di perkebunan, hanya Dargolah yang memiliki jam tangan, Titus lagi. Mandor saja hanya memiliki jam model lama yang dimasukkan ke dalam kantong baju dengan talinya yang disangkutkan pada /ungang kancing. Memang tidak banyak bemanfaat jam itu bagi Dargo, hanya untuk melihat waktu salat kalau hari mendung atau hujan. Dargo rajin salat dan tiap habis salat ia berdoa untuk Nian agar melupakan dirinya, segera memperoleh jodoh orang yang lebih baik daripada dia. Jika suatu ketika ia mengetahui Nian sudah bersuami, barulah ia akan kembali ke desa. Dargo kecewa sekali tatkala ia bertanya kepada Burhan tentang, apakah Nian sudah bersuami. "Setahu aku, belum”, singkat jawaban Burhan Kunyit. Oleh karena itu, tiap selesai salat, Dargo berdoa untuk jodoh Nian serta melupakan dirinya.
