Lain halnya dengan pemuda Dargo, dia termasuk yang selamat. Hitung-hitung tidak kurang dari 25 orang serdadu Belanda telah ia tembak dalam tujuh babak pertempuran. Andaikata tidak sebutir peluru jahanam menembus pangkal pahanya tentu ia akan menembak lebih banyak lagi. Saat tertembak itulah pemuda Dargo terguling ke jurang pada malam yang teramat gulita. Dapat dibayangkan betapa pedih rasa luka ditahannya, sementara binatang buas siap menyerang karena mencium bau darah segar. Tampaknya belum ajal berpantang mati. Berkat lindungan Tuhan dan bantuan temannya, Burhan Kunyit, ia diangkut ke markas untuk dirawat. Itulah asal muasal kaki Dargo pincang dan itulah kebanggaan Roefe terhadap almarhumah ayahnya.
Dargo ingat betul saat peristiwa itu terjadi, yaitu 8 April 1949. Saat itu pulalah tidak mungkin lagi Dargo mengikuti pasukannya di barisan depan untuk memanggul senjata, tetapi ia tetap di markas dan diperbantukan di dapur umum mengerjakan apa saja, segala macam keperluan pasukan. Tiga tahun total Dargo bergabung dalam pasukannya sampai tiba takdir menjadi Dargo pincang.
Dargo enggan memberi kabar kepada keluarganya tentang apa yang telah terjadi pada dirinya. Sesungguhnya ia tidak mau Nian kekasihnya mengetahui apa yang terjadi, kiranya mustahil Nian menerimanya sebagai calon suami. Diulang-ulang kata mustahil dalam hatinya seperti yakin betul akan kemustahilan itu. Untuk itulah dargo berusaha melupakan Nian dengan macammacam kesibukan.
Melupakan kekasih tidak semudah kacang melupakan kulitnya. Itulah sesuatu yang paling berat dilakukan Dargo, lebih berat daripada memanggul beban betapa pun beratnya. Dalam suatu kesempatan berkhayal Dargo membayangkan dirinya lebih baik dianggap sudah gugur saja sebagai kesuma bangsa daripada dilihat ia masih hidup dengan tubuh yang cacat. Oleh karena itu, beberapa kali ia berusaha lari meninggalkan pasukannya, tetapi selalu dicegah oleh teman-temannya. Malah Dargo pemah berpikir lebih buruk, “mengapa aku tidak mati saja sekarang." Akan tetapi, pikiran buruk itu segera dihalau oleh ajaran agama, “bunuh din itu adalah perbuatan syirik yang dosanya tidak akan diampuni oleh Tuhan”. Ajaran agama itulah yang telah menyelamatkan Dargo dari perbuatan nekad.
