ABDULLAH DARGO - PART 3

lexim
0
Pemuda itu bernama Abdullah. Lengkapnya Abdullah Dargo. Dari mana asal usul tambahan Dargo itu tidak jelas, mungkin bentuk tubuhnya yang cukup atletis, kukuh, perkasa. Otot-ototnya menonjol seperti seorang binaragawan. Di antara pemudapemuda sekampung, malah sekecamatan, Abdullah Dargo itu lebih dikenal orang. Cuma ia buta huruf Latin karena tidak sekolah. Memang sekolah waktu itu belum umum, bukan dia saja yang tidak bersekolah pada zaman prarevolusi itu. Walaupun begitu, ia pandai mengaji dan dapat menulis huruf Arab ala kadarnya. Banyak remaja putri desa yang jatuh hati kepada pemuda Dargo yang tampan dan gagah itu, di antaranya adalah gadis Nian yang Cukup jelita di desa. Keduanya memang seperti pinang dibelah dua, sesuai dan serasi.

Kedua remaja itu bercinta dengan hati nurani, tanpa surat menyurat. Apabila Dargo sudah amat rindu, dia berjalan melewati jalan kecil depan rumah Nian, sebaliknya Nian pada saat seperti itu memiliki indera keenam, ada getaran-getaran tertentu dan ia berdiri di jendela rumahnya untuk memandang Dargo dari jauh. Keempat bola mata mereka saling memancarkan sinar asmara dan keduanya merasa bahagia. Selain Dargo usai salat Jumat. Pasti si dia akan menampakkan dirinya pada saat orang keluaf dari masjid dan Dargo akan memandang Nian seutuhnya.

Kebahagiaan kedua remaja desa itu berlangsung terus. Pada tanggal 24 Juli 1948 Dargo merasa terpanggil untuk berjuang, lalu menggabungkan diri ke dalam pasukan PEMBELA NEGARA, guna mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus, tiga tahun yang lalu. Dargo dilatih segala macam kesiagaan dan keterampilan menggunakan senapan apa adanya dari rampasan senjata Jepang.

Pada saat akan berangkat, Dargo menyempatkan diri mengunjungi kekasihnya untuk mengucapkan selamat berpisah. Ibu Nian yang sudah uzur itu membiarkan pertemuan mereka melepas rindu. Ibunya tidak keberatan mereka mengikat janji.

Almarhum suaminya yang meninggal tahun lalu juga setuju andaikata Dargo nanti melamar Nian. Keempat bola mata keduanya yang selama ini bersinar ceria, saat ini bermurung durja, berkaca-kaca karena akan berpisah. Dargo akan menantang desingan peluru musuh, siap untuk menembak dan siap pula ditembak, siap membunuh dan siap pula dibunuh. Satu pegangan mereka, yaitu hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Dargo dan Nian saling berjanji setia, hanya matilah yang akan memisahkan mereka.

“Andaikata aku selamat kita akan berjumpa lagi, Andai ....”

“Aku doakan keselamatanmu Abang . . . semoga Tuhan melindungimu dan Abang akan kembali kepadaku ... dan kita akan kawin . .." terputus-putus Nian mengucapkan kata “kawin”.



Begitulah dua kalimat yang paling sempurna diungkapkan dua remaja desa yang sedang jatuh cinta dan sedang memadu kasih sayang. Malam itu keduanya bersalaman dengan getaran tangan yang sepertinya belum pernah terjadi dan belum pernah dirasakan.

“Gagah sekali Dargo dalam pakaian seragam ...” begitu puji Nian di dalam hati.

“Gagah sekali aku dalam pakaian tentara dengan sepucuk senapan tersandang di bahu, Nian begitu kagum kepadaku ... begitu kata hati Dargo pula memuji dirinya.

Keduanya berpisah membawa kenangan masing-masing. Nian siap menunggu sang pahlawan kembali dari medan peperangan dengan membawa kemenangan.

Tags:

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)