AYAHKU - PART 2

lexim
0
Ayahku, demikian judul karangan biografi yang sedang ditulis Roefe dan 75% selesai. Data-data yang diperlukan sebagian besar telah terkumpul, hanya beberapa foto lokasi tempat peristiwa penting terjadi. Keinginan Roefe menulis tentang ayahnya sudah lama dipendam, yaitu sejak ibunya menceritakan riwayat hidup ayahnya pada masa muda di desa dan asal muasal mereka hijrah ke ibu kota, dan ayahnya itu telah wafat setahun yang lalu di Tanah Suci saat selesai melaksanakan ibadah haji. Jasad beliau dimakamkan di Bagi' dekat masjid Nabawi, Madinah Munawwarah. 

Dalam keterharuan itulah ibunya menceritakan riwayat ayahnya di mana Roefe belum mengetahui sebelumnya. Roefe menghayati dan menyerap dengan penuh kekaguman, bangga dan hormat. “Alangkah gagahnya ayahku waktu muda, alangkah perkasanya ayahku, alangkah besarnya jasa ayahku dalam revolusi merebut kemerdekaan negeri ini, alangkah ikhlasnya beliau berjuang..." dan beberapa "alangkah" lain yang patut disandang oleh Roefe. Tidak seorangpun di antara tetangga dan kawan-kawan dekat ayahnya yang mengetahui sebab musabab kakj ayahnya pincang karena ayahnya itu tidak pemah menceritakan kepada siapa pun. 

AYAHKU

Roefe sendiri baru mengetahui setelah ibunya membuka kisah itu dan sejak saat itu pulalah Roefe ingin menulis riwayat perjalanan hidup ayahnya. Kiranya kisah Semacam ini patut diketahui oleh generasi penerus dalam rangka mengenang pahlawan bangsa yang telah menyumbangkan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan negara ini dari penjajahan bangsa lain. Kiranya tidak hanya ayahnya yang bernasib kurang beruntung setelah revolusi usai, tentu masih banyak yang lebih buruk lagi. |

Roefe memang ragu untuk menulis riwayat ayahnya sebagai seorang biasa yang tidak dikenal, siapa pula yang sudi membaca biografi semacam itu. Namun, Roefe berpikir lain, kisah ini tidak untuk dibaca orang, tetapi cukuplah sebagai catatan pribadi, kebanggaan pribadi sebagai putra seorang pejuang. Roefe mengetahui mengapa ayahnya tidak pernah menceritakan kisah perjuangannya kepada siapa pun, tidak lain tidak bukan hanya agar jasanya tidak diketahui seorang pun, dia lebih bahagia dengan hanya Tuhanlah yang mengetahuinya. Oleh karena itu, Roefe juga tidak ingin mempublikasikannya karangannya yang satu ini, melainkan semata-mata untuk dirinya.
Tags:

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)