"Wah, Kak Dahlan hebat. Dengan demikian, bila terjadi sesuatu tentu mudah mengawasinya," ujar Karim. "Benar. Kita memang perlu meningkatkan kewaspadaan di daerah sendiri."
"Sepertinya ada orang yang mendekati kandang, Kak," kata Rusli agak cemas. "Ya, tepat dugaanmu Rusli," sahut Kak Dahlan sambil melecutkan tiga kali. Tar...,tar..., tar.
Dari kejauhan terdengar suara lecutan yang sama. Tar..., tar...tar... . "Itulah Kak Jamil, ayo kita sambut dia," kata Kak Dahlan turun diikuti Rusli dan Wawan.
Benar, begitu dibuka munculah dari kegelapan wajah Kak Jamil yang tampak remang remang. Hanya giginya yang tersenyum tampak dengan jelas.
"Kalian belum tidur?"
"Kalau sudah tidur, tentu tidak bisa membukakan pintu untukmu," kata Kak Dahlan. "Ayo, masuk."
Kak Jamil mengikuti ajakan Kak Dahlan.
"Eh, adik-adik sebentar lagi ujian," kata Kak Jamil sambil duduk. Dia melihat buku-buku yang berserakan di atas tikar.
"Benar, Kak," sahut Rusli.
"Berarti kalian akan mengantongi ijazah SD."
"Hanya itu, Kak."
"Mengapa?"
"Karena aku tidak bisa meneruskan sekolah ke SMP."
"Wah, sayang. Semakin banyak yang lulus dari SD, tetapi semakin banyak pula yang tidak melanjutkan sekolah," ujar Kak Jamil sambil melirik Kak Dahlan.
"Ya, mungkin harus mulai dipikirkan pendirian SMP di desa kita ini."
Mendirikan sekolah bukan main-main, tentunya memerlukan biaya yang cukup besar."
"Maksud saya, untuk sementara SMP diadakan pada malam atau sore hari, yang bertempat di SD Cemara."
"Idemu patut dipikirkan lebih jauh."
"Akan tetapi, Kak," sela Rusli.
"Apa?" tanya Kak Jamil.
"Tampaknya banyak orang tua yang tidak setuju jika anakanaknya ingin melanjutkan sekolah."
"Apa alasan mereka?" desak Kak Dahlan.
"Pertama, masalah biaya. Semakin tinggi sekolah, semakin tinggi biaya. Kedua, banyak orang tua yang membutuhkan tenaga anakanaknya untuk membantu dalam menggarap sawah, ladang, dan ternak."
Kak Jamil dan Kak Dahlan terdiam. Ya, memang masyarakat Desa Cemara masih ketinggalan jauh. Pemikiran warganya masih berkisar pada diri mereka sendiri. Memang hal itu tidak bisa disalahkan karena mereka benar-benar belum tahu.
"Anak-anak muda harus bangkit dan mulailah melakukan pekerjaan yang mulia," kata Kak Jamil.
"Apa maksud, Kakak?" tanya Wawan.
“Generasi muda harus memberikan teladan dan pengerti kepada generasi tua. Mudah-mudahan mereka sadar akan . pentingnya sekolah, sama pentingnya dengan mencangkul sawah dan jadang," kata Kak Jamil pula.
"Bagaimanakah cara mengubah pandangan itu? desak Rusli.
"Ya, secara perlahan. Kita harus mencobanya. Kita akan mencoba mengadakan kelas-kelas malam, terutama bagi anak-anak yang sudah tamat SD," kata Kak Dahlan mendukung.
"Wah, tentu kita semua akan senang Kak," sahut Rusli.
"Kira-kira kapan, Kak?"
"Semuanya memerlukan waktu, Rus. Tunggulah, kita harus memusyawarahkannya bersama."
"Ya, terima kasih, Kak. Mudah-mudahan hal itu menjadi kenyataan," kata Wawan.
"Benar, Kak," sahut Karim.
"Baiklah, kami akan mengadakan perondaan. Mudah-mudahan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Jika ada apa-apa, pukullah kentongan, jelas," kata Kak Dahlan.
"Cukup jelas, Kak," sahut anak-anak serempak.
Kemudian, Kak Jamil dan Kak Dahlan beranjak turun dan menghilang dari keremangan malam. Karim mengunci pintu dan kembali ke atas. Di bawah tidak terdengar suara apa pun kecuali dengkur hewan ternaknya.
Malam itu, tidak ada kejadian apa-apa yang membuat orang resah. Menjelang pagi, ketiga anak itu membuka kandang dan membiarkan hewan itu keluar dari tempatnya.
Sepulang dari sekolah, mereka mencoba mendekati rumah di atas pohon. Mereka ingin mengetahui ada apa sebenarnya di sana? Mereka berharap bertemu dengan Kak Dahlan dan Kak Jamil yang membuat rumah di atas pohon itu.
Rumah itu tampak kokoh karena bertopang pada pohon yang besar, tetapi di manakah pintunya?
"Dari mana masuknya, ya?" tanya Rusli. |
"Ya dari tadi saya tidak melihat pintu masuknya," ujar Karim.
"Sepertinya rumah itu tidak berpintu," sahut Wawan.
"Ah, tidak mungkin. Mana ada rumah tidak berpintu?"
Ketika mereka sedang kebingungan, terdengar suara gemersik di semak semak dekat mereka. Mereka menengok ke arah suara tersebut.
Tiba-tiba muncullah Kak Dahlan dan Kak Jamil.
“Ha...ha... ha... kalian sudah di sini!” sapa Kak Jamil.
“Tentu kalian bingung di mana pintunya, bukan?” “Benar, Kak," jawab Rusli.
Kak Jamil kemudian menyrbak semak semak yang nmbun itu. Ternyata semak semak itu merapat dengan pintu sebuah gua.
"Ayo, masuk," ajak Kak Jamil. Mereka mengkuti dengan perasaan heran.
Gua itu menuju ke tebing yang jurang. Di sana ada sebuah tangga menuju ke rumah di atas pohon. Tangga itu terbuat dan tah Mungkin maksudnya kalau tidak digunakan bisa ditarik ke atas dan di atas tali itulah tampak sebuah pintu.
"Pantas kuta tidak melihat pintu," yjar Kanm "Kiranya pintu ada di belakang rumah yang menghadap jurang."
"Sudah jangan banyak cakap,” kata Kak Dahlan tersenyum. "Ayo, kuta ke atas."
Kak Jamil memanyat lebih dahulu, dukuti Kak Dahlan. Baru kemudian gran anak anak. Orang tidak akan mengira bahwa di balik semak semak itu ada gua yang mengantarkan mereka ke bawah pohon.
Di rumah kecil itu udak ada kamar. Hanya ada ruang terbuka yang diberi alas tikar dan sebuah jendela yang mengarah ke arah lembah dan bulat.
“Generasi muda harus memberikan teladan dan pengerti kepada generasi tua. Mudah-mudahan mereka sadar akan . pentingnya sekolah, sama pentingnya dengan mencangkul sawah dan jadang," kata Kak Jamil pula.
"Bagaimanakah cara mengubah pandangan itu? desak Rusli.
"Ya, secara perlahan. Kita harus mencobanya. Kita akan mencoba mengadakan kelas-kelas malam, terutama bagi anak-anak yang sudah tamat SD," kata Kak Dahlan mendukung.
"Wah, tentu kita semua akan senang Kak," sahut Rusli.
"Kira-kira kapan, Kak?"
"Semuanya memerlukan waktu, Rus. Tunggulah, kita harus memusyawarahkannya bersama."
"Ya, terima kasih, Kak. Mudah-mudahan hal itu menjadi kenyataan," kata Wawan.
"Benar, Kak," sahut Karim.
"Baiklah, kami akan mengadakan perondaan. Mudah-mudahan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Jika ada apa-apa, pukullah kentongan, jelas," kata Kak Dahlan.
"Cukup jelas, Kak," sahut anak-anak serempak.
Kemudian, Kak Jamil dan Kak Dahlan beranjak turun dan menghilang dari keremangan malam. Karim mengunci pintu dan kembali ke atas. Di bawah tidak terdengar suara apa pun kecuali dengkur hewan ternaknya.
Malam itu, tidak ada kejadian apa-apa yang membuat orang resah. Menjelang pagi, ketiga anak itu membuka kandang dan membiarkan hewan itu keluar dari tempatnya.
Sepulang dari sekolah, mereka mencoba mendekati rumah di atas pohon. Mereka ingin mengetahui ada apa sebenarnya di sana? Mereka berharap bertemu dengan Kak Dahlan dan Kak Jamil yang membuat rumah di atas pohon itu.
Rumah itu tampak kokoh karena bertopang pada pohon yang besar, tetapi di manakah pintunya?
"Dari mana masuknya, ya?" tanya Rusli. |
"Ya dari tadi saya tidak melihat pintu masuknya," ujar Karim.
"Sepertinya rumah itu tidak berpintu," sahut Wawan.
"Ah, tidak mungkin. Mana ada rumah tidak berpintu?"
Ketika mereka sedang kebingungan, terdengar suara gemersik di semak semak dekat mereka. Mereka menengok ke arah suara tersebut.
Tiba-tiba muncullah Kak Dahlan dan Kak Jamil.
“Ha...ha... ha... kalian sudah di sini!” sapa Kak Jamil.
“Tentu kalian bingung di mana pintunya, bukan?” “Benar, Kak," jawab Rusli.
Kak Jamil kemudian menyrbak semak semak yang nmbun itu. Ternyata semak semak itu merapat dengan pintu sebuah gua.
"Ayo, masuk," ajak Kak Jamil. Mereka mengkuti dengan perasaan heran.
Gua itu menuju ke tebing yang jurang. Di sana ada sebuah tangga menuju ke rumah di atas pohon. Tangga itu terbuat dan tah Mungkin maksudnya kalau tidak digunakan bisa ditarik ke atas dan di atas tali itulah tampak sebuah pintu.
"Pantas kuta tidak melihat pintu," yjar Kanm "Kiranya pintu ada di belakang rumah yang menghadap jurang."
"Sudah jangan banyak cakap,” kata Kak Dahlan tersenyum. "Ayo, kuta ke atas."
Kak Jamil memanyat lebih dahulu, dukuti Kak Dahlan. Baru kemudian gran anak anak. Orang tidak akan mengira bahwa di balik semak semak itu ada gua yang mengantarkan mereka ke bawah pohon.
Di rumah kecil itu udak ada kamar. Hanya ada ruang terbuka yang diberi alas tikar dan sebuah jendela yang mengarah ke arah lembah dan bulat.
Ketika anak-anak masuk, mereka terkejut karena di dalam ada seorang bapak yang berkopiah hitam sedang duduk bersila di pojok.
"Oh, 1ya, kenalkan ini Pak Sujai. Seorang sahabat anak-anak dan sahabat kuta semua," kata Kak Dahlan memperkenalkan orang tua 1tu. Mereka bersalaman dan menyebutkan namanya.
Pak Sujai mengangguk sambil mengawasi anak-anak dengan pandangan yang tajam. Anak-anak merasa risi mendapat sorotan matanya. |
"Selamat siang. Anak-anak!" sapa Pak Sujai ramah bersamaan dengan sinar matanya yang berubah menjadi lembut.
"Selamat siang,” sambut anak-anak.
Pak Sujai memandang Jamil dan Dahlan.
"Mereka bisa dipercaya, Pak, " kata Jamil mencoba memberi pengertian."Tidak perlu curiga kepada mereka," timpal Dahlan. Pa Sujai hanya mengangguk.
Ketiga anak itu mengamati sekeliling tempat tersebut dan mencoba melihat lembah dan bukit dari sebuah jendela kecil. Dari situ mereka dapat mengawasi semua gerak-gerik orang yang lewat. Benar-benar strategis tempatnya. Akan tetapi, orang akan sulit melihat rumah yang di atas pohon itu karena tertutup oleh semaksemak yang rimbun.
"Bapak tidak perlu khawatir. Di sini cukup aman. Jauh dari penglihatan orang." Kak Dahlan sedang berbincang-bincang dengan Pak Sujai.
Pak Sujai memberi isyarat agar Kak Dahlan tidak banyak berbicara. Kak Dahlan memakluminya. Kemudian, dia mengajak anak-anak keluar dari situ..Anak-anak kemudian memberi salam dan mereka mengikuti Kakak Dahlan dan Kak Jamil menuruni tangga tali.
Wawan agak gemetar ketika menuruni tangga itu karena di bawah menganga jurang yang dalam. Akan tetapi, Karim dan Rusli dengan cekatan menuruni tangga dan sampai di gua. Tidak lama kemudian, mereka telah keluar dengan menerobos semak-semak yang tumbuh di depan gua. Dalam perjalanan pulang, anak-anak bergantian bertanya tentang orang asing yang berada di rumah di atas pohon itu.
"Siapa sih, Pak Sujai itu, Kak?" tanya Karim kepada Kak Jamil. "Ah, kalian tidak usah banyak bertanya. Nanti juga tahu," sahut
Kak Jamil sambil terus berjalan. "Mengapa begitu, Kak. Apakah beliau tidak boleh dikenal?" sergah Rusli.
"Tidak juga, tetapi sebaiknya saat ini keberadaan beliau harus dirahasiakan."
"Mengapa harus demikian?" tanya Wawan.
"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Nanti malam akan saya elaskan, sabariah," jelas Kak Jamil,
Jawaban itu sungguh tidak memuaskan anak-anak, tetapi nereka memang harus bersabar.
“Baiklah, jadi keberadaan Pak Sujai di rumah pohon itu untuk sementara harus dirahasiakan?" tanya Karim.
"Ya, kami akan berjanji," kata anak-anak serempak.
Mereka akhirnya berpisah dan kembali ke rumahnya masingmasing. Karim sampai di rumah bersamaan dengan pulangnya Pak Karta, ayah Karim. Pa Karta baru pulang dari sawahnya. Pak Karta memakai celana hitam, dadanya yang lebar tidak berbaju dan sebuah caping melindunginya dari terik matahari. Dia memanggul cangkul di atas bahunya. Pak Karta langsung ke sumur untuk membersihkan cangkul serta anggota tubuhnya yang terkena lumpur.
Setelah membersihkan diri dan peralatannya, Pak Karta langsung masuk rumah. Mak Karta telah menyediakan secangkir kopi panas di atas meja.
"Kopi, Pak."
"Terima kasih. Mana, Karim?"
"Dia juga baru pulang."
"Mengapa dia pulang agak sore?"
"Katanya sudah berkunjung dari rumah teman."
"Oh, begitu."
"Apakah mau makan sekarang, Pak?"
"Ah, nanti saja. Saya mau menikmati kopi buatanmu."
Pak Karta mulai meneguk kopi panasnya sedikit demi sedikit.
"Kabarnya ada tetangga baru, yang baru pindah dari desa lain."
"Siapa?"
"Pak Roban, yang rumahnya terletak di belakang Balai Desa."
"Oh, ya. Saya juga sudah dengar kemarin dari Pak Bedor. Akan tetapi, belum sempat bertemu dengan orangnya."
"Ya, memang baru hari ini dia ada di sini." Tiba-tiba datanglah Karim. "Rim, kamu sudah makan?" tanya Pak Karta.
"Belum, Pak." "Nah, Mak. Tolong siapkan makan siang kita bersama."
"Eh, bukan siang, Pak," sahut Karim.
"Lalu?" "Sekarang sudah tidak siang lagi, tetapi sudah sore. Jadi, tepatnya makan sore."
"Kamu benar, Rim."
Akhirnya, keluarga Pak Karta makan sore bersama. Di luar matahari sudah semakin condong ke barat, sebentar lagi akan tenggelam di ufuk barat. Hari ini Karim tidak pergi ke kandang di luar desa karena sudah dilakukan oleh kakaknya yang bernama Karno.
Angin berembus lembut. Dedaunan bergoyang. Sementara burung-burung mulai terbang pulang. Suasana pun terasa sepi. Lebih-lebih di jalan desa.
Kak Jamil sambil terus berjalan. "Mengapa begitu, Kak. Apakah beliau tidak boleh dikenal?" sergah Rusli.
"Tidak juga, tetapi sebaiknya saat ini keberadaan beliau harus dirahasiakan."
"Mengapa harus demikian?" tanya Wawan.
"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Nanti malam akan saya elaskan, sabariah," jelas Kak Jamil,
Jawaban itu sungguh tidak memuaskan anak-anak, tetapi nereka memang harus bersabar.
“Baiklah, jadi keberadaan Pak Sujai di rumah pohon itu untuk sementara harus dirahasiakan?" tanya Karim.
"Ya, kami akan berjanji," kata anak-anak serempak.
Mereka akhirnya berpisah dan kembali ke rumahnya masingmasing. Karim sampai di rumah bersamaan dengan pulangnya Pak Karta, ayah Karim. Pa Karta baru pulang dari sawahnya. Pak Karta memakai celana hitam, dadanya yang lebar tidak berbaju dan sebuah caping melindunginya dari terik matahari. Dia memanggul cangkul di atas bahunya. Pak Karta langsung ke sumur untuk membersihkan cangkul serta anggota tubuhnya yang terkena lumpur.
Setelah membersihkan diri dan peralatannya, Pak Karta langsung masuk rumah. Mak Karta telah menyediakan secangkir kopi panas di atas meja.
"Kopi, Pak."
"Terima kasih. Mana, Karim?"
"Dia juga baru pulang."
"Mengapa dia pulang agak sore?"
"Katanya sudah berkunjung dari rumah teman."
"Oh, begitu."
"Apakah mau makan sekarang, Pak?"
"Ah, nanti saja. Saya mau menikmati kopi buatanmu."
Pak Karta mulai meneguk kopi panasnya sedikit demi sedikit.
"Kabarnya ada tetangga baru, yang baru pindah dari desa lain."
"Siapa?"
"Pak Roban, yang rumahnya terletak di belakang Balai Desa."
"Oh, ya. Saya juga sudah dengar kemarin dari Pak Bedor. Akan tetapi, belum sempat bertemu dengan orangnya."
"Ya, memang baru hari ini dia ada di sini." Tiba-tiba datanglah Karim. "Rim, kamu sudah makan?" tanya Pak Karta.
"Belum, Pak." "Nah, Mak. Tolong siapkan makan siang kita bersama."
"Eh, bukan siang, Pak," sahut Karim.
"Lalu?" "Sekarang sudah tidak siang lagi, tetapi sudah sore. Jadi, tepatnya makan sore."
"Kamu benar, Rim."
Akhirnya, keluarga Pak Karta makan sore bersama. Di luar matahari sudah semakin condong ke barat, sebentar lagi akan tenggelam di ufuk barat. Hari ini Karim tidak pergi ke kandang di luar desa karena sudah dilakukan oleh kakaknya yang bernama Karno.
Angin berembus lembut. Dedaunan bergoyang. Sementara burung-burung mulai terbang pulang. Suasana pun terasa sepi. Lebih-lebih di jalan desa.
