Sementara itu, di sawah-sawah luas yang mengelilingi desa, selalu terlihat para petani yang sedang bekerja dengan penuh keriangan. Sekali-sekali tampak lembu menarik bajak, atau kerbau yang berwarna abu-abu. Bila kita tengok saluran-saluran air di sekelilingnya, terlihatlah air yang bening, yang keluar dari matamata air di atas perbukitan.
Karim, salah seorang anak yang hidup di lingkungan tersebut. Kadang-kadang di musim menggaru sawah atau membajak sawah Karim sering duduk di atas bajak. Sementara itu Pak Hasan, ayahnya mengayunkan cemeti dan mengarahkan jalan hewan penarik bajak itu.
Jika sawah mulai terendam air, sering terlihat beberapa ekor burung liar yang berkunjung, antara lain belibis dan kuntul yang mencari makanan di sawah yang terhampar luas itu. Kadang-kadang burung-burung itu datang berombongan, kadang-kadang hanya satu, dua ekor yang lewat. Pemandangan seperti itu sungguh menarik.
Bila senja telah tiba, anak-anak gembala datang berbondongbondong ke sungai untuk memandikan kerbau setelah menggembalakannya di padang rumput yang luas.
Mereka tidak membawa ternaknya ke desa, tetapi mengandangkannya di luar desa. Mereka membuat kandang yang bahannya dari kayu dan bambu. Di atas kandang ada ruang tidur untuk para penjaga. Kandang itu memang perlu dijaga, terutama pada malam hari karena dikhawatirkan ada pencuri yang berkeliaran di bukit-bukit. .
Sebenarnya, bukan pencuri saja, kawanan serigala pun Sering muncul dan menggasak ternak kambing yang lengah. Itulah sebabnya, di malam hari orang bergantian menjaga kandang.
Kandang tersebut terdiri atas beberapa kandang yang disatukan dan dibagi menjadi dua bagian. Bagian bawah untuk tempat hewan- hewan itu tidur di malam hari. Pada bagian ini dibuat kolong kandangnya sehingga kotoran hewan-hewan itu jatuh ke bawah. Bila kotoran itu sudah banyak akan dibuat menjadi pupuk kandang. Bagian atasnya merupakan sebuah ruangan yang diberi alas tikar, juga disediakan bantal dan sarung, di situlah para penjaga tidur. Ada pula beberapa perabot dapur yang disimpan di sudut ruangan untuk membuat kopi atau menanak nasi.
Kandang itu dibuat untuk dua jenis hewan, kerbau atau sapi dan kambing, sedangkan ternak ayam dikandangkan di rumahrumah penduduk.
Sewaktu-waktu, Karim dan kawan-kawannya menginap di kandang, yang lamanya bisa sampai tiga hari bahkan seminggu.
Kandang itu sengaja dibangun di atas tanah yang lebih tinggi agar mudah mengadakan pengawasan bila ada sesuatu. Dengan demikian, mereka dapat melayangkan pandangannya dengan leluasa ke sekitar tempat itu.
Di kandang tersedia kentongan, yang dipergunakan bila ada bahaya mengancam, juga dilengkapi dengan lampu-lampu minyak untuk penerangan di malam hari.
Hari ini giliran Karim untuk berjaga, seminggu sekali ia bergantian dengan Karno, kakaknya. Biasanya bila mendapat giliran berjaga, Karim selalu membawa buku-buku pelajaran untuk sambil belajar di sana.
Karim ditemani Rusli dan Wawan. Sepulang sekolah dan setelah makan siang, Karim bersama Rusli dan Wawan menuju padang penggembalaan. Di sana mereka melihat hewan ternaknya yang sedang merumput dengan tenang.
Memang demikian, bila Karim berteriak sekeras-kerasnya tidak akan mengganggu hewan ternaknya. Begitu juga, bila mereka menyanyi tidak akan mengganggu siapa-siapa. Karena padang rumput itu cukup luas dan gema suara itu akan lenyap ditelan keluasan padang.
Kebetulan Wawan dan Rusli satu kelas dengan Karim. Mereka baru kelas 6 SD. Sebentar lagi mereka akan mengikuti ujian akhir dan bila berhasil akan meneruskan sekolahnya ke SMP. Akan tetapi sayang, di Desa Cemara belum ada SMP, ada juga di kecamatan yang jaraknya cukup jauh dari desa tersebut.
" "Bagaimakah rencanamu Rim, setelah lulus dari SD?" tanya Rusli.
“Ya, Insya Allah, saya akan melanjutkan ke SMP."
“Wah, kamu beruntung Karim, mempunyai orang tua yang mendukung."
"Kalau kamu bagaimana Rus?"
"Wah, saya tidak akan meneruskan sekolah karena orang tua saya tidak menyetujuinya. "
"Wah, sayang sekali Rus," timpal Wawan. "Kalau orang tua saya setuju saja dan masalah biaya ditanggung oleh Kakak yang sudah bekerja di kota kecamatan."
"Kamu sungguh beruntung, Wan. Saya sendiri adalah anak tertua dan tidak mempunyai kakak yang sudah bekerja." Sungguh, saya tidak mengerti jalan pikiran ayahmu. Apa alasan beliau?" tanya Karim.
"Sudah beberapa kali saya menyampaikan keinginan untuk melanjutkan sekolah. Akan tetapi, ayah selalu berkata bahwa beliau tidak mampu membiayainya. Bahkan akhir-akhir ini, beliau berkata "Untuk apa sekolah tinggi-tinggi. Yang penting orang dapat membaca dan menulis. Cukuplah, cobalah kamu pikirkan! Jika kamu melanjutkan sekolah, harus mencari rumah sewa di kota. Keperluan makan, minum, dan alat-alat sekolah pun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit."
"Bukankah bisa menumpang di rumah paman?"
"Ya tentu, tetapi kita tidak menyerahkan semuanya kepada pamanmu. Itu namanya merepotkan orang lain."
Rusli hanya terdiam. Ia tampak sedih mendengarkan hal itu.
"Lagi ... siapa yang akan membantu ayah untuk menggarap sawah, ladang, dan menggembalakan ternak."
Rusli tidak kuasa menjawab. Tenggorokannya terus kering.
"Coba, lihat orang-orang yang telah lulus dari sekolah lanjutan!" Toh mereka tidak menduduki jabatan. Misalnya, menjadi guru atau pegawai, tetapi mereka tetap menjadi petani. Lihat anak Pak Kades, si Amar itu. Sudah berapa puluh juta, uang yang dihabiskan untuk masuk ke perguruan tinggi. Sapi, kerbau, dan kambingnya habia dijual untuk menambah biaya sekolah. Akan tetapi, ia belum bekerja seperti yang ia harapkan."
Rusli masih berdiam.
"Nah, itulah alasan ayah saya."
"Oh, tidak disangka ayahmu berpikiran itu," ujar Wawan.
"Ya, memang amat disayangkan tetapi sudahlah. Mari sekarang kita menggiring ternak kita agar pulang kandang."
"Benar, ayolah kita kerjakan sekarang."
Kemudian, mereka mulai mencari kerumunan ternaknya yang sudah cukup banyak. Mereka tidak merasa kesulitan mencarinya karena sudah hafal benar. Sebenarnya, mereka tidak perlu bersusah payah menggiring ternak itu karena hewan itu sudah tahu ke mana harus masuk kandang.
Ketika melewati rimbun semak-semak di tepian padang, mereka melihat sebuah pohon besar di tepi jurang. Sebuah pohon trembesi yang besar. Bukan pohon trembesi itu yang membuat mereka heran. Akan tetapi, di antara cabang-cabang pohon trembesi terdapat sebuah rumah kecil yang seolah-olah hinggap di atas pohon tersebut.
"Sejak kapan ada rumah di atas pohon?" desis Rusli heran.
"Ya, saya pun tidak tahu," sahut Karim dan Wawan.
Mereka memperhatikan rumah di atas pohon itu dengan saksama. Dari kejauhan rumah itu tidak tampak karena tertutup oleh gerumbul yang seolah-olah memagari pohon yang tumbuh di tepi jurang.
Rumah itu beratapkan daun kelapa yang dijajarkan menjulur ke bawah. Dindingnya dibuat dari batang-batang kecil dan yang disatukan, diikat dengan tali.
Ketiga anak itu asyik melihat rumah temuannya sehingga tidak sadar bahwa semua hewan ternaknya telah berlalu. Kini hewanhewan itu telah masuk ke kandangnya.
"Eh, ke mana ternak kita?" kata Rusli tiba-tiba.
"Ya, ke mana? Mungkin sudah berjalan duluan," sahut Wawan. "Mari kita lihat," ajak Karim.
Kemudian, mereka meninggalkan rumah di atas pohon itu dan menuju ke tempatnya. Memang benar, semua hewan ternaknya sudah masuk ke kandangnya masing-masing. Pada malam harinya, ketiga anak itu berbincang-bincang tentang rumah di atas Pohon itu.
"Siapa yang menghuninya, ya?"kata Rusli sambil berselonjor di atas tikar.
"Entahlah," sahut Wawan sambil menyalakan lampu minyak,
"Perlu diteliti,” ujar Karim yang sedang menjerang air di atas kompor di sudut ruangan.
"Besok saja, sepulang dari sekolah, " kata Rusli sambil membantu Wawan memasang lampu gantung di tengah ruangan.
Ketiga anak itu mulai membuka nasi bekal dari rumahnya dan memakannya bersama-sama. Kemudian, mereka minum teh hangat. Sementara udara semakin dingin, angin malam yang berembus dengan leluasa menyentuh tubuh mereka yang hanya memakai celana panjang dan berselempang kain sarung.
Mereka kemudian mengerjakan PR berhitung dan mengulang pelajaran IPS tadi pagi. Pada pukul 21.00 mereka menutup bukunya. Rusli tampak lesu wajahnya.
"Kamu masih ingat omongan ayahmu?" desah Wawan.
Rusli mengangguk kecil.
Tidak perlu berkecil hati, Rus," hibur Karim. "Banyak anak-anak desa kita yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMP."
"Ah aku tidak berani berpikir lebih jauh."
Ketiganya kemudian diam. Tiba-tiba mereka tersentak karena mendengar suara lecutan tiga kali berturut-turut. Tar..., Tar..., Tar. Suara itu begitu menggema di keheningan malam seperti itu.
“Itu suatu isyarat, Rus," kata Karim.
"Ya, isyarat ini seperti saya kenal," sahut Rusli.
“Kalau tidak salah ini isyarat Kak Jamil," jelas Wawan.
Belum sempat mereka berdiri, telah terdengar suara orang bergema. ,
"Hoi ..., adakah orang di atas?"
Ketiga anak itu saling berpandangan. Mereka belum biss menebak siapakah orang yang di bawah dengan membawa cambuk itu.
“Siapa itu?" seru Karim mencoba menyapa dan mengorek keterangan orang yang memanggil.
“Hoi, saya Dahlan. Tolong bukakan pintu."
“Oh, Kak Dahlan. Sebentar, Kak," kata Rusli sambil bergerak ke bawah.
Terdengar pintu kayu yang berat dibuka. Di depan kandang, muncullah Kak Dahlan sambil membawa cemeti.
"Kalian belum tidur?"
"Belum, Kak. Ayo, silakan ke atas."
"Saya melihat lampu di atas. Kupikir pasti ada anak-anak yang berjaga," kata Kak Dahlan sambil meniti anak tangga ke atas mengikuti Rusli. ,
"Dari mana, Kak?" tanya Karim sambil menggeser duduknya dan memberi kesempatan Kak Dahlan duduk.
"Saya baru saja berkeliling ke kandang-kandang lainnya. Tampaknya aman. Lalu, saya terus kemari."
“Sudah lama daerah ini aman ya, Kak," ujar Wawan.
"Ya, kira-kira lima tahun yang lalu. Daerah ini sungguh rawan. Hampir setiap malam ada saja hewan yang hilang. Akan tetapi, setelah sarangnya ditemukan dan mereka digiring ke kantor polisi, daerah ini menjadi aman-aman saja seperti sekarang ini."
“Syukurlah, Kak. Kalau begitu kita tidak perlu jaga, Kak?" ujar Karim. ,
"Oh, tidak boleh begitu. Kita tidak boleh mengendorkan kewaspadaan. Siapa tahu suatu saat akan terjadi lagi. Lebih baik kita sedia payung sebelum hujan."
"Benar, Kak. Keamanan harus dijaga dengan baik," ujar Rusli. "Kalau tidak, akan mengundang kejahatan."
"Ya, kalian harus tetap berwaspada."
"Kak, tadi kami melihat ada rumah di atas pohon," kata Wawan.
"Oh, yang di dekat jurang itu?"
"Benar, Kak. Mengapa Kak Dahlan sudah tahu?"
"Tentu saja, sayalah yang membuat rumah di atas pohon itu bersama Kak Jamil."
"Oh, pantas. Saya kira rumah itu tiba-tiba saja muncul dengan hanya mengucapkan simsalabim." kata Rusli sambil tersenyum.
Kak Dahlan hanya tertawa kecil.
